Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Duel Pemain dan Pelatih Beda Generasi
Minggu, 10 Juni 2012 | 20:40 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP PHOTO/ ODD ANDERSEN
Pelatih Kroasia, Slaven Bilic.

POZNAN, KOMPAS.com - Pertandingan Grup C antara Irlandia dan Kroasia, Senin (11/6/2012) pukul 01.00 dini hari WIB, adalah duel dua tim dari generasi yang berbeda. Irlandia masih memercayakan nasibnya pada keandalan pemain-pemain veteran, sementara Kroasia lebih memilih skuad yang diisi pemain-pemain muda berbakat.

Pelatih yang menangani kedua tim juga berasal dari dua generasi yang berbeda. Giovanni Trapattoni, Pelatih Irlandia, pantas disebut kakek-kakek karena usianya 72 tahun. Sementara Pelatih Kroasia Slaven Bilic masih berusia 43 tahun.

Irlandia masih mengandalkan pemain veteran yang usia rata-ratanya sudah lebih dari 30 tahun, seperti Robbie Keane (depan), Shay Given (kiper), John O’Shea (belakang), Damien Duff (tengah), dan Keith Andrews (tengah). Kroasia justru meregenerasi pemain dengan cepat. Kini mereka diperkuat pemain muda di bawah usia 30 tahun, antara lain Ivan Rakitic (tengah), Nikica Jelavic (depan), dan Niko Kranjcar (tengah).

Meskipun Irlandia dicemooh karena mengandalkan pemain veteran, Trapattoni bergeming. Pelatih asal Italia itu tidak peduli omongan orang tentang usia pemainnya. Ia justru yakin dapat menjinakkan tim Kroasia dengan menerapkan fleksibilitas. Fleksibilitas artinya semua pemain dapat bermain di semua lini apabila diperlukan. Trapattoni berpandangan bahwa kelemahan dari segi usia dapat ditutupi dengan strategi yang tepat.

”Ketika kami kehilangan bola, pemain tengah seperti Damien Duff dan Aiden McGeady akan mundur menjadi bek. Saat menyerang, bek Stephen Ward bisa maju sebagai striker. Itulah sepak bola modern, yang dibutuhkan adalah fleksibilitas,” kata Trapattoni lagi.

Sejak menangani tim Irlandia pada Mei 2008, ”Mr Trap”, julukan Trapattoni, menerapkan strategi sepak bola yang kaku. Ia ingin setiap pemain disiplin pada tugas dan posisi masing-masing. Namun, sekarang Trapattoni memilih strategi yang fleksibel, mengalir seperti air.

Trapattoni mengatakan, usianya yang sudah senja bukan halangan menjadi pelatih. ”Saya merasa seperti berumur 20 tahun, tetapi memiliki lebih banyak pengalaman. Saya masih ingin membuat prestasi di sepak bola,” ujar Trapattoni.

Bek Irlandia, John O’Shea, mengatakan, timnya telah berlatih melakukan transisi dari menyerang menjadi bertahan dengan sempurna. Bermain menyerang menuntut kemampuan pemain untuk berganti-ganti peran. Sebaliknya, ketika dalam posisi bertahan, pemain harus kembali ke posisinya semula.

Harapan warga Irlandia pada Robbie Keane dan kawan-kawan demikian besar. Sebab, Irlandia baru dua kali tampil di putaran final Piala Eropa, yaitu tahun 1988 dan 2012.

Dilanda cedera

Kroasia? Mereka bernafsu mengalahkan Irlandia demi kelancaran langkah mereka di babak penyisihan. Kemenangan pertama akan menjadi bahan bakar untuk menyongsong pertandingan berikutnya.

Sayangnya tim Kroasia akan kehilangan beberapa pemain andal saat menghadapi Irlandia. Bek andalan Vedran Corluka mengalami cedera hamstring saat berlatih, Kamis (7/6). Ia telah menjalani tes kesehatan pada keesokan harinya untuk memastikan kesiapannya. Sebelumnya, bek Ivo Ilicevic terpaksa digantikan oleh Sime Vrsaljko karena cedera di otot betis sebelah kiri pada sesi latihan Rabu.

Kehilangan dua pemain tidak membuat Kroasia kehilangan ketajaman. Kroasia masih punya sederet pemain muda potensial, salah satunya adalah striker Everton, Nikica Jelavic. Penampilan cemerlang Jelavic di Liga Inggris bersama Everton cukup melegakan Bilic.

Bilic menuturkan, kehadiran Jelavic membuat kepercayaan diri tim Kroasia meningkat. ”Kondisi Jelavic sedang berada di puncak, perkembangannya luar biasa. Ia adalah salah satu aset terbaik Kroasia,” ujarnya.

Bilic menegaskan, ia sama sekali tidak pusing dengan cedera sejumlah pemain. Bilic mengaku sudah menyiapkan rencana cadangan untuk mengatasi persoalan cedera.

Kiper Kroasia, Stipe Pletikosa, kepada uefa.com menuturkan, banyak pemain Irlandia yang menjadi matang karena bermain di Liga Inggris. Kelebihan Liga Inggris adalah menghasilkan pemain bermental kuat. ”Mereka menjadi pemain yang pantang menyerah,” kata Pletikosa.

Kroasia berada di peringkat kedelapan FIFA. Di Grup C hanya Spanyol (peringkat pertama) dan Kroasia yang masuk 10 besar dunia. Peringkat Kroasia yang lebih tinggi dari peringkat Irlandia (peringkat ke-18) dan Italia (peringkat ke-12) menumbuhkan rasa percaya diri mereka walau peringkat tidak menjamin kualitas di lapangan. (REUTERS/AFP/WAD)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor : Tri Wahono