Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Bahaya Obat Penghilang Rasa Sakit Bagi Pesepak Bola
Penulis: Okky Herman Dilaga | Rabu, 06 Juni 2012 | 15:36 WIB
Dibaca:
|
Share:
Daylife
Gelandang Chelsea, Ramires, mendapatkan perawatan saat tampil melawan QPR, Sabtu (28/1/2012). Gelandang asal Brasil itu divonis selama empat pekan karena mengalami cedera lutut.

KOMPAS.com - Ketua tim medis FIFA, Profesor Jiri Dvorak, memperingatkan bahaya penggunaan obat penghilang rasa sakit bagi para pemain sepak bola. Sudah bukan rahasia lagi bila pada zaman ini banyak pemain yang menggunakan obat tersebut.

Selama Piala Dunia 2010 contohnya, Departemen Medis FIFA bertanya kepada para tim dokter dari masing-masing negara mengenai penggunaan obat penghilang rasa sakit. Jawaban mengejutkan pun didapat FIFA.

Hasil penelitian pada Piala Dunia 2010 yang dilaporkan British Journal of Sports Medicine, menunjukkan penggunaan obat penghilang rasa sakit meningkat dari sebelumnya. Tercatat, 39 persen dari seluruh pemain memakai obat penghilang rasa sakit sebelum bertanding.

"Sejak 1998, kami mengumpulkan data medis seluruh pemain yang terlibat di turnamen resmi FIFA. Ada sekitar 55 turnamen dengan kategori usia di bawah 17 tahun sampai tim senior. Hasilnya mengejutkan. Bahkan, di level usia U-17, ada 20-25 persen pemain yang menggunakan obat penghilang rasa sakit. Jumlah ini semakin besar di kategori usia yang lebih tinggi," sebut Drovak.

"Para pemain mungkin menggunakan langkah tersebut tanpa persetujuan dari tim medis. Tetapi, ada juga yang diperbolehkan dengan pengawasan dari dokter. Yang jelas, para pemain memakai obat penghilang rasa sakit agar nyaman saat bertanding. Padahal, hal itu bisa membahayakan," pungkasnya.

Lalu, apa bahaya obat penghilang rasa sakit bila disalahgunakan?

"Setiap obat yang diminum memiliki efek samping yang bagus, seperti penambah kadar darah. Tetapi, ada juga yang memiliki efek negatif pada fungsi hati dan ginjal. Beberapa obat juga dapat mengiritasi saluran pencernaan serta dapat menyebabkan pendarahan," tuturnya.

 

Editor : Caroline Damanik