Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
KOLOM OLAHRAGA
Kembalinya "Si Nyonya Besar"
Kamis, 10 Mei 2012 | 02:04 WIB
Dibaca:
|
Share:

Anton Sanjoyo

Entah kenapa, klub hebat itu di sini sering salah dijuluki ”Si Nyonya Tua”. Barangkali karena sebagian orang Indonesia memang suka asal-asalan. Juventus memang dijuluki ”La Vecchia Signora”, yang dalam bahasa Inggrisnya, ”The Old Lady”. Terjemahan ke bahasa Inggris inilah yang kemudian dipakai acuan sebagian penggemar sepak bola kita. Secara tradisi Juventus sebagai klub tersukses dalam sejarah sepak bola Italia, julukan mereka lebih tepat diterjemahkan dengan ”Si Nyonya Besar”, yang lebih berarti juragan atau penguasa jagat sepak bola Italia.

Hari Minggu lalu, Juventus membuktikan mereka bukanlah si nyonya tua renta yang sudah habis kejayaannya dimakan zaman. Mereka membuka mata dunia bahwa juragan atau nyonya besar Liga Italia adalah Juventus dengan merebut gelar ke-28 setelah menghantam Cagliari, 2-0. Gelar ”La Vecchia Signora” dipastikan setelah rival terdekat, AC Milan, tumbang 2-4 di tangan Internazionale Milan dalam derbi Della Madonnina yang penuh dengan aroma permusuhan.

Bagi sang juragan, gelar ini adalah sebuah jalan panjang penuh onak duri sejak mereka didera badai calciopoli yang membuat gelarnya pada musim 2005-2006 dicopot. Gelarnya tidak hanya dilucuti akibat skandal pengaturan hasil pertandingan itu, tetapi status istimewanya sebagai penghuni Serie A juga dihabisi dan harus rela degradasi ke Serie B.

Namun, enam tahun setelah bencana paling memalukan dalam sejarah sepak bola itu, Juventus bangkit. Tim asuhan Antonio Conte itu bahkan berpeluang menjadi tim kedua setelah AC Milan yang menjuarai liga tanpa pernah kalah. Sejauh ini, Alessandro del Piero dan kawan-kawan menyelesaikan 37 laga dengan hasil 22 kali menang dan 15 imbang. AC Milan menjadi juara tanpa kalah pada 1992 saat ”Rossoneri” ditangani Fabio Capello.

Sukses Juventus kembali ke posisi paling tinggi dalam tataran elite Serie A sekaligus mengakhiri persaingan sengit sampai detik akhir yang selama satu bulan terakhir menjadi fenomena umum di persepakbolaan Eropa. Sampai dengan pekan ke-36, Juventus masih bersaing ketat dengan juara bertahan AC Milan. Persaingan berakhir setelah AC Milan tersungkur di San Siro dalam derbi Milan.

Tiga hari sebelum keberhasilan Juventus, di tanah Iberia, Real Madrid juga mengembalikan kejayaan dengan menjuarai La Liga Spanyol. Tim asuhan Jose Mourinho ini mengakhiri dominasi seteru abadinya, Barcelona, setelah menang 3-0 atas tuan rumah Athletic Bilbao di San Mames.

Kembalinya Real Madrid sebagai penguasa Spanyol sekaligus mengukuhkan reputasi Mourinho sebagai pelatih yang memang istimewa. ”The Special One” membuktikan julukan yang dia berikan sendiri bukan omong kosong. Sejarah mencatat, Mourinho bisa meraih gelar di mana pun dia berada, di Portugal bersama FC Porto, di Inggris bersama Chelsea, di Italia saat menangani Internazionale, dan di Spanyol bersama Real Madrid.

Meski tergelincir di Liga Champions, Mourinho adalah arsitek utama ”Los Blancos” untuk mengakhiri dominasi Barcelona. Sukses terbesar Mourinho adalah tetap meyakinkan para pemainnya bahwa Barcelona bukanlah tim yang tak tersentuh setelah serangkaian kekalahan telak di El Clasico. Pada duel klasik terakhir musim ini di Stadion Nou Camp, persaingan praktis terhenti setelah tuan rumah Barca tumbang 1-2.

Keberhasilan Juventus dan Real Madrid tinggal menyisakan persaingan antara Manchester City dan Manchester United untuk berebut takhta Liga Inggris sampai detik terakhir. Di antara lomba juara kompetisi-kompetisi terbaik Eropa, Liga Primer Inggris memang paling sengit sampai akhir.

Manchester City sempat kehilangan asa pada awal April setelah mereka kalah 0-1 di tangan Arsenal, sekaligus tertinggal delapan poin dari juara bertahan United. Pelatih City Roberto Mancini mengatakan, persaingan dengan United telah berakhir, dan dia hanya mengusahakan mengakhiri kompetisi dengan kepala tegak. Rupanya pernyataan Mancini itu lebih merupakan perang psikologis karena dalam perjalanannya Citizen justru terus memetik kemenangan dan United malah tergelincir di tangan Wigan dan Everton.

City kemudian merebut pole position dengan keunggulan selisih delapan gol setelah memenangi derbi Manchester lewat gol tunggal kapten Vincent Kompany. Dengan dua laga tersisa, Mancini tetap merendah dengan mengatakan bahwa United masih favorit mengingat lawan-lawannya ”ringan”, yakni Swansea dan Sunderland. Sementara City harus menghadapi ambisi Newcastle United yang ingin menembus zona Liga Champions dan Queens Park Rangers (QPR) yang bertarung hidup mati untuk bertahan di Premiership.

Impian City untuk merebut gelar Liga Inggris setelah 44 tahun semakin mendekati kenyataan setelah mereka menekuk Newcastle, 2-0, di Sports Direct Arena. Sukses ini ditandai dengan strategi jitu Mancini yang memasukkan gelandang bertahan Nigel de Jong menggantikan gelandang serang Samir Nasri. Masuknya De Jong membuat Yaya Toure, yang tadinya bermain sebagai gelandang bertahan, leluasa menyerang bersama David Silva, Sergio Aguero, dan Carlos Tevez. Toure akhirnya dua kali menjebol gawang Newcastle setelah deadlock selama 70 menit.

Perjalanan City belum berakhir karena United juga menang 2-0 atas Swansea. Maka laga terakhir hari Minggu mendatang adalah penentuan siapa yang terbaik di Premiership. Di atas kertas, baik City maupun United menghadapi laga yang tak mudah. City, meski bermain di kandang, pasti dilawan habis-habisan oleh QPR yang bersaing dengan Bolton dan Aston Villa untuk lolos dari bencana degradasi. Sementara United tandang ke Sunderland, tim yang selalu merepotkan klub besar.