Sabtu, 25 Oktober 2014

Bola / Liga Indonesia

PSSI, KPSI dan Prestasi Timnas yang Mati Suri

Kamis, 1 Maret 2012 | 16:51 WIB

"Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu. Tapi bertanyalah apa yang bisa kau berikan untuk negaramu," -John Fitzgerald Kennedy.


KOMPAS.com - Pernyataan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F Kennedy itu seakan menjadi renungan tersendiri jika kita melihat kondisi pesepakbolaan nasional. Prestasi bukan lagi harga mati karena egoisme telah merasuki jiwa sejumlah pengurus Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) demi sebuah kursi.

Konflik yang tak kunjung usai itu memang menjadi inti dari kiprah sepak bola dalam kurun waktu lebih dari setahun ini. Perseteruan dua kelompok tak ubahnya seperti maling yang menggerogoti mimpi anak bangsa yang ingin meraih prestasi tinggi. Kata-kata perubahan yang dilayangkan tak lebih dari sekedar janji kosong yang melompong.

Mau bukti? Lihat saja, sejak konflik tersebut muncul, apakah ada prestasi tim nasional yang dibanggakan? Jangankan di kancah internasional, di lapangan sepak bola regional Asia Tenggara selalu dipenuhi kegagalan. Mulai dari timnas senior jadi bulan-bulanan di Pra-Piala Dunia 2014, timnas Sea Games yang harus dipermalukan oleh Malaysia di partai puncak, hingga timnas junior U-19 dan U-16, yang tak mampu menembus putaran final tingkat Asia.

Paling anyar, "Garuda Muda" harus rela dipermalukan 10 gol tanpa balas saat melawan Bahrain, Rabu (29/2/2012). Hasil ini menjadi rekor kekalahan terbesar Indonesia sejak tahun 1934. Terakhir, kekalahan terbesar terjadi pada tahun 1976, saat Denmark mampu mencukur Indonesia 9-0 dalam laga uji coba di Kopenhagen.

Prestasi buruk itu pun berimbas pada peringkat FIFA. Pada akhir Desember 2011, Indonesia harus bercokol di urutan ke-21 di Asia, atau peringkat ke-142 dunia. Hasil itu jelas berbeda pada akhir 2010, dimana posisi Indonesia dapat menempati urutan 19 Asia dan peringkat 127 dunia. Dalam perhitungan peringkat FIFA yang terbaru, Kamis (1/3/2012), sehari setelah dihajar Bahrain, Indonesia bercokol di peringkat 146 dengan mengoleksi 161 poin atau melorot 22 poin dari bulan lalu.


Tamparan keras

Melihat sejumlah fakta diatas, tamparan keras memang harus disematkan kepada sejumlah pengurus yang bersiteru. Masyarakat sejatinya sudah jengah dengan apa itu statuta, KLB, Komite Ekskutif, atau sejumlah pembelaan maupun pembenaran lainnya. Yang masyarakat butuhkan hanyalah prestasi, bukan omong kosong yang tak berisi.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malarangeng saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/3/2012), pun mengaku hasil buruk dalam pertandingan melawan Bahrain telah mencoreng nama Indonesia. Pertandingan itu, kata Andi, merupakan bentuk nyata dari hasil perseteruan PSSI dan KPSI.

"Mudah-mudahan semua pihak terbuka mata dan hatinya melihat hasil semalam. Inilah hasil kalau pengurus ribut terus. Seharusnya mereka semua mendahulukan kepentingan sepak bola nasional," kata Menpora.

Masyarakat mungkin sudah bosan dengan kosakata "rekonsiliasi" yang sering dikemukakan di sejumlah media. Rekonsiliasi bisa menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki kompetisi yang merupakan jantung dari pembentukan sebuah tim nasional. Para pemain yang mengisi komposisi timnas tentunya pemain terpilih berasal dari klub-klub yang tampil di kompetisi nasional.

Namun, faktanya kompetisi kasta tertinggi di Indonesia yang kembali pecah menjadi dua kelompok, yakni Indonesia Super League (ISL) yang ditangani PT Liga Indonesia dan Indonesian Premier League (IPL) yang dikelola PT LPIS membuat hancur prestasi sepak bola nasional. Pembelaan maupun alasan terus dikumandangkan oleh dua pengurus organisasi tersebut jika timnas meraih kegagalan. Sebaliknya, jika berurusan dengan kompetisi, sudah pasti jawabannya adalah KLB harga mati.

"Saya bukan cari-cari alasan. Ini kita kalah karena wasit. Ada pertarungan antara Bahrain dan Qatar yang lagi main di Iran. Waktu kita duduk sama-sama (di tribun stadion), saya dengar cucu raja bilang 'Kita (Bahrain) akan menang 8-0'. Saya jadi bingung, maksudnya apa?" kata koordinator timnas, Bob Hippy menanggapi kekalahan dari Bahrain.

Harusnya, PSSI bisa meniru Jepang dengan kompetisi J-League-nya. Bahkan, jika ditarik ke belakang, negeri Sakura itu belajar dari kompetisi Galatama milik Indonesia pada era 1970-an. Sejumlah inovasi yang dibentuk akhirnya mampu membangun pondasi yang kuat dalam kompetisi J-League.

Dengan format itu, sejumlah peserta kompetisi pun bertranformasi menjadi klub yang disegani di kawasan Asia dan prestasi tim nasionalnya bisa dibuktikan dengan keikutsertaan di putaran final Piala Dunia. Bahkan, mereka sukses mencetak bintang seperti Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, dan Shinji Kagawa atau sejumlah pemain yang bermain di liga-liga Eropa.

Namun, kesuksesan itu berbanding terbalik dengan apa yang dicapai Indonesia. Sejak Aji Santoso, Robby Darwis, Edy Harto dan kawan-kawan merebut medali emas Sea Games 1991, sepak bola Indonesia justru tenggelam dalam sejarah kelam. Negara berpenduduk 240 juta yang sebagian besar pecinta sepak bola ini harus gigit jari melihat prestasi timnas yang mati suri.


Sampai kapan?

Pertanyaannya sekarang adalah sampai kapan mati suri berlangsung? Apakah kita harus terus hanya bermimpi pemain nasional meraih prestasi? Ataukah kita hanya mau membanggakan prestasi medali emas Sea Games 1991 yang telah berlalu hampir 20 tahun itu? PSSI harus membuka mata, telinga dan hati bahwa ratusan juta rakyat Indonesia ingin prestasi dan bukan hanya sekedar gengsi demi kepentingan pribadi.

Legenda sepak bola Indonesia, Andjas Asmara di Jakarta, pertengahan Januari lalu, pernah mengatakan, masyarakat kini sudah bosan dengan konflik yang terjadi di induk sepak bola tertinggi di Indonesia ini. Menurutnya, yang dibutuhkan sepak bola Indonesia saat ini adalah kesatuan demi membangkitkan kejayaan Indonesia di mata internasional.

"Mereka tidak sayang sama pemain. Mau dibawa ke mana sepak bola kita ini. Rakyat sudah capai, sudah bosan dengan yang model-model seperti ini. Sekarang kebesaran kita di level Asia sirna entah ke mana. Belum lagi banyak benar masalah ini dan itu. Kenapa tidak konsentrasi ke pembinaan karena itu yang paling penting. Rakyat itu menunggu prestasi," ujar Andjas.

Kepekaan sebagai warga negara yang ingin timnasnya berprestasi tampaknya harus ditanamkan kepada sejumlah pengurus PSSI maupun KPSI. Sudah habis kata untuk melontarkan kritik terhadap kegagalan mereka membangun sepak bola nasional. Kerendahan diri dan jiwa kepahlawanan dari keduanya sangat dinantikan.

Ingin Indonesia berprestasi atau tetap "kekeuh" dengan rangkaian lelucon yang tiada henti?


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Caroline Damanik