Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Arema Malang
Ajaib, Akhirnya Dejan Bisa Masuk Gajayana
Penulis: Doddy Wisnu Pribadi | Minggu, 26 Februari 2012 | 17:48 WIB
|
Share:
Dokumentasi KOMPAS.com
Ilustrasi: Aremania atau penonton fanatik Arema yang adalah pemilih potensial ini disebut-sebut sebagai pemicu perpecahan Arema menjadi tiga klub sekarang ini.

MALANG, KOMPAS.com - Tim singo edan Arema Liga Primer Indonesia (LPI) milik PT Arema Indonesia (PT AI) yang selama ini dirundung konflik berebut nama Arema di arena LPI, akhirnya bisa masuk lapangan Stadion Gajayana, Malang.

Arema sesuai jadwal menggel ar laga melawan Persijap, Jepara, Minggu (26/2/2012). Sampai memasuki babak kedua, Arema berhasil memasukkan dua gol ke gawang Persijap Jepara, setelah di babak pertama Jepara kehilangan penjaga gawang Danang Wihatmoko akibat tangannya cedera. Namun kemudian Jepara bisa mengimbangi dengan dua gol pula.

Bagaimana kisah sebenarnya, bahwa akhirnya PT AI bisa mendapat surat izin menggunakan Stadion Gajayana, yang selalu menjadi pokok masalah dalam konfliknya dengan Yayasan Arema Indonesia (YAI), masih simpang siur.

YAI yang dipimpin mantan Sekretaris Daerah Pemkot Malang HM Noor pada dua kesempatan laga Arema lawan PSPS pekanbaru dan Bontang FC , berhasil mengganjal PT AI. Baik PT AI maupun YAI memiliki tim Arema versi LPI masing-masing. PT AI dipimpin pelatih Dejan Antonic, dan YAI dipimpin pelatih Milomir Seslija.

Sampai Jumat malam kedua tim masih berlatih di Stadion Gajayana dalam waktu berbeda. Dejan dan timnya diberitakan masuk Stadion sore, dan Milo malam hari. PT AI mengklaim hari Sabtu pulkul 15.00 sudah mengantongi izin penggunaan Stadion Gajayana dari Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Soebari.

Namun Dispora juga yang pada dua kesempatan laga sebelumnya tidak memberi izin, karena menganggap urusan konflik harus diselesaikan dulu, sesuai kesepakatan antara dua Arema tersebut dengan pihak keamanan.

Namun kenyataannya, Dejan yang kini berhadapan dengan Persijap. Hanya saja, karena situasi tegang selama itu, pertandingan hari Minggu di Stadion Gajayana berlangsung tanpa tiket. Penonton yang jumlahnya sedikit, hanya sekitar 1.000 orang, sementara kapasitas stadion 17.000 penonton, bisa masuk tanpa tiket. Ketidakjelasan jadwal pertandingan membuat penonton tak mengantisipasi.

Aparat keamanan membuka gerbang semua sisi, dan tetap saja tidak ada arus penonton. Tiket dan soal keabsahan tiket dengan tanda perforasi memang selalu jadi sumber masalah, karena Dispora dan Dispenda tidak memberi pengesahan.

Editor : Robert Adhi Ksp