Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
IPL
Transfer Window Diundur, Arema 'Gerah'
Yatimul Ainun | Glori K. Wadrian | Selasa, 14 Februari 2012 | 09:13 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Yatimul Ainun
Surat dari LPIS yang diberikan kepada Manajemen Arema versi M Nur atau Peni Suparto dari pihak PT LPIS yang ditanda tangani oleh Chief Excekutif Officer PT LPIS Widjajanto. Minggu (12/2/2012)

MALANG, KOMPAS.com - Muncul kesan yang kuat, berbagai siasat dilakukan LPIS selaku penyelenggara kompetisi Indonesia Premier League (IPL) untuk 'menyingkirkan' Arema Indonesia yang dikelola PT Ancora dari kompetisi. Kasus terbaru adalah, menjelang pertandingan derby antara Arema dan Persema, pada 19 Februari, transfer window diundur menjadi tanggal 20 Februari. Padahal, awalnya, transfer window dibuka oleh LPIS pada 16 Februari 2012. Perubahan itu tertuang dalam surat LPIS yang dikirimkan via surat elektronik (email) kepada manajemen Arema Indonesia kubu PT Ancora.

"Surat soal transfer window bernomor 163 itu, dikirim LPIS ke kami pada Senin (13/2/2012) malam. Intinya, berarti secara de facto, LPIS itu mengakui kami adalah Arema yang sah. Namun, sebelumnya, LPIS telah mengirimkan surat persoalan soal segera dilaksanakan pertandingan ulang, setelah batal bertanding dengan Bontang FC, kepada Subur, yang mengklaim adalah Ketua Panpel yang sah bentukan M Nur," jelas bagian legal PT Arema kubu Ancora, Soesanto, kepada Kompas.com, Selasa (14/2/2012) pagi.

Melihat surat LPIS itu, Soesanto lantas menilai, LPIS melakukan inkonsistensi dalam kebijakan yang ditujukan kepada tim berjuluk 'Singo Edan' itu. "Ini jelas LPIS inkonsisten. Kalau begini, LPIS mencla-mencle. Jelas tidak profesional dan penuh kepentingan. Dengan perubahan itu, jelas kami yang dirugikan," katanya.

Terkait segala polemik ini, Soesanto menegaskan, dalam dalam waktu singkat, pihaknya akan segera meminta uang senilai Rp 2 miliar, kepada M Nur, yang tetap mengklaim Ketua Yayasan Arema. "Kami sudah klimaks. Semuanya akan kami bongkar. Uang yang diterima M Nur itu adalah uang dari PSSI untuk klub. Kami sudah tak mempersoalkan diterima M Nur. Tapi karena hingga kini tak jelas pertanggungjawabannya, harus kami usut dan ambil," tegasnya.

"Motivasi M Nur itu hanya uang. Satu barang dijual berulang-ulang. Barang itu ya Arema. M Nur juga pernah meminta uang kepada kepada kami (PT Ancora), sebelum menyerahkan Arema pada 21 Desember 2011 lalu di Aula Angkatan Laut di Malang, kepada Ibu Fanda (Fanda Soesilo, orang yang dipercaya PT Ancora). Jadi begitu sosok M Nur," katanya.

Sementara itu, M Nur, terus dihubungi Kompas.com, untuk diminta keterangan soal kasus tersebut, namun nomor ponselnya sedang tidak aktif. Dihubungi via pesan pendek pun tak juga dibalas. Sejak Arema terpecah menjadi dua, yakni Arema yang kompetisi di IPL dan ISL, M Nur sangat tertutup dan hampir tak pernah berkomentar kepada media. Ia terkesan berupaya menghindar dari awak media.