


BATA, KOMPAS.com — Zambia selangkah lagi mengukir sejarah di Piala Afrika. Kemenangan 1-0 atas Ghana di babak semifinal, Rabu (8/2), mengantarkan tim yang berjuluk "Chipolopolo", alias Peluru Tembaga, itu ke babak final. Mereka menantang tim tangguh Pantai Gading untuk meraih gelar yang pertama kalinya.
Keberhasilan Zambia mencapai partai puncak menjadi drama di Piala Afrika. Kejutan yang dibuat para pemain Zambia memupuskan ambisi Ghana sekaligus membuyarkan prediksi final impian antara Ghana dan Pantai Gading. Ghana memang lebih layak difavoritkan dibanding Zambia karena, baik secara historis, maupun materi pemain, mereka unggul segalanya. Sepanjang sejarah Piala Afrika, Ghana sudah mengecap empat gelar juara.
Tahun 2010 lalu, mereka membuat prestasi fenomenal dengan menembus babak perempat final Piala Dunia. Ghana menjadi tim Afrika kedua setelah Kamerun yang sukses menembus grup elit delapan besar dunia.
Namun, sejarah dan keunggulan materi pemain tak membuat gentar pemain-pemain Zambia. Mereka tampil habis-habisan di lapangan untuk meredam sekaligus menaklukkan Ghana. Ghana sendiri tampil mendominasi. Sejumlah peluang mampu mereka ciptakan, termasuk hadiah tendangan penalti.
Sayangnya eksekusi yang diambil Asamoah Gyan gagal menghasilkan gol. Pada babak kedua, tekanan dari Ghana juga tidak berhenti. Namun, pertandingan kemarin memang bukan milik Ghana. Justru Zambia yang keluar sebagai pemenang. Pemain pengganti Emmanuel Mayuka mencetak gol pada menit ke-78.
Sejarah pedih
Laga final di Stade de l'Amite, Senin (13/2) dini hari WIB nanti akan menyingkap sejarah pedih bagi Zambia. Di kandang Gabon itu, tim ini akan mencoba memenangkan pertandingan final untuk kali ketiga, seusai tragedi kecelakaan pesawat yang mengangkut 30 pemain Zambia di Libreville pada 1993.
Zambia, yang dua kali menjadi runner-up, kali terakhir tampil pada babak final Piala Afrika pada 1994, atau setahun setelah terjadinya kecelakaan pesawat. Saat itu mereka dikalahkan Nigeria 1-2 dalam laga yang penuh emosional.
"Kali terakhir Zambia main di final pada 1994 dengan tim cadangan karena seluruh tim meninggal dunia pada 1993. Artinya, sebelum turnamen kami bisa katakan: jika dengan pemain pengganti saja bisa ke final Piala Afrika, kenapa kami tidak? dan kami bisa," ungkap Pelatih Zambia, Herve Renard.
Untuk mewujudkan impian itu, Zambia harus menghadapi Pantai Gading. Didier Drogba dan kawan-kawan melaju ke final berkat kemenangan tipis 1-0 atas Mali. Gol semata wayang Pantai Gading dibuat pemain klub Inggris, Arsenal, Gervinho.
Dibanding Zambia, Pantai Gading lebih difavoritkan juara. Seperti halnya Ghana, mereka diperkuat sejumlah pemain yang berlaga di Liga Eropa. Bagi Pantai Gading, mungkin ini menjadi kesempatan terakhir bagi generasi emas mereka, seperti Drogba yang akan genap berusia 34 tahun bulan depan.
"Kami datang ke sini dengan banyak harapan dan tekanan. Kegagalan di masa lalu jadi pelajaran, " kata pelatih timnas Pantai Gading, Francois Zahoui.

