


JAKARTA, KOMPAS.com - Pelatih dan pemain sepak bola Indonesia menyambut baik program latihan Elite Training Live (ELT 2.0) untuk mengukur kemampuan fisik dan teknik para pemain sepak bola. Dengan metode dan alat-alat yang digunakan, pelatih dan pemain bisa mengetahui batas kemampuan mereka melalui uji kemampuan atletik dan level kemampuan teknik pemain.
"Metode ini bagus untuk meningkatkan kemampuan pemain karena semua bisa diukur. Ini juga bisa membantu pekerjaan pelatih dalam memantau perkembangan pemain. Program ini bisa diimplementasikan ke klub-klub, bahkan ke internasional," ungkap pelatih Mitra Kukar, Simon McNemeny, dalam keterangan pers di Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
ETL 2.0 merupakan program yang diciptakan Nike untuk diterapkan kepada pesepak bola muda yang berusia 15-19 tahun. Program ini akan efektif untuk anak-anak dan remaja yang belum masuk sekolah sepak bola profesional.
"Setelah peluncuran program ini, kita akan ke sekolah sepak bola. Dalam dua bulan ke depan kita akan ke 30 SSB," ungkap Country Marketing Manager Nike Indonesia, Nino Priambodo.
Pelatih bisa lebih akurat
Metode yang dilengkapi dengan data-data digital ini memungkinkan para pelatih mengetahui kemampuan fisik dan teknis dari anak-anak asuhannya dengan lebih akurat. Dengan demikian, pelatih bisa menerapkan program peningkatan kemampuan yang lebih tepat untuk masing-masing pemain.
"(Program ini) sangat penting. Ini untuk mengukur daya fisik kita. Ini membantu pelatih untuk menilai kemampuan pemain. Sepak bola modern sudah menggunakan metode ini," kata gelandang Sriwijaya FC, Firman Utina, pada kesempatan yang sama.
Apalagi, versi terbaru program ini menerapkan terobosan baru, seperti SPARQ (Speed, Power, Agility, Reaction, Quickness), serta memiliki program latihan YIRT (Yoyo Intermitend Recovery Test), Vertical Jump, dan GPS 7on7 (pertandingan tujuh lawan tujuh) yang dipantau lewat GPS.

