


AMSTERDAM, KOMPAS.com - Spanyol punya Akademi ”La Masia” Barcelona, Jerman merevolusi sistem pembinaan usia muda mulai 2002, dan Uruguay bangkit lewat visi Oscar ”El Maestro” Tabarez. Bagaimana dengan Belanda, finalis Piala Dunia 2010? Jantung pembinaan sepak bola usia muda Negeri Kincir Angin itu berada di De Toekomst, akademi sepak bola Ajax Amsterdam.
Berlokasi hanya sepelemparan batu dari Stadion Amsterdam ArenA, markas klub Ajax, De Toekomst—yang berarti ”Masa Depan”—adalah kompleks pemusatan latihan tempat bibit-bibit muda berusia 7-19 tahun digodok serta ditempa dengan filosofi dan gaya permainan sepak bola Belanda, total football.
Fasilitas kompleks itu kelas wahid. Dibuka Agustus 1996, kompleks tersebut dilengkapi enam lapangan sepak bola tempat latihan plus laboratorium canggih bernama miCoach Performance Centre, tempat seluruh gerakan sepak bola para pemain direkam dan dianalisis dengan analisis biomekanis.
Produk sistem pembinaan akademi Ajax tak perlu diragukan. Segudang bintang telah lahir dari akademi itu, mulai dari generasi Johan Cruijff, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Wim Kieft, Dennis Bergkamp, Patrick Kluivert, hingga generasi Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, John Heitinga, Nigel de Jong, Maarten Stekelenburg, dan Gregory van der Wiel.
Di final Piala Dunia 2010, Belanda diperkuat tujuh alumnus akademi Ajax. Ajax pun identik dengan sepak bola Belanda. ”Seluruh ide modern tentang bagaimana mengembangkan pemain-pemain muda diawali Ajax. Merekalah bapak pendiri,” kata Huw Jennings, arsitek sistem pembinaan usia muda Inggris, kepada majalah New York Times, yang mengupas akademi Ajax dalam edisi 2 Juni 2010.
Apa keistimewaan De Toekomst? Dari pemaparan majalah FourFourTwo yang juga membahas akademi Ajax dalam edisi Agustus 2011, selain kelengkapan fasilitas, kehebatan model dan materi latihan, serta kualitas staf kepelatihan, De Toekomst juga memiliki nilai-nilai khas untuk membentuk karakter para pemain muda binaan mereka.
”Hal terpenting yang kami ajarkan adalah rasa tanggung jawab,” kata Jan Olde Riekerink, Direktur Pembinaan Usia Muda Ajax. ”Mereka masih anak-anak, jadi saya tidak akan meneriaki mereka, tetapi mereka harus sadar bahwa menjadi pemain profesional itu harus bisa membuat keputusan tepat.”
Dengan filosofi itu, mental bibit-bibit muda De Toekomst dibentuk. Berkat keunggulan mental tersebut, lahir bintang- bintang sekelas Sneijder. Playmaker yang kini bermain di Inter Milan itu mengakui, banyak pemain seangkatan dia lebih jago dalam teknik sepak bola, tetapi gagal karena soal mentalitas.
Pembinaan di De Toekomst, meski dijalankan sangat ketat dan disiplin tinggi, tidak mengenal adanya teriakan pelatih, tekanan dari orangtua pemain, atau umpatan kemarahan ofisial. Perlu digarisbawahi, tidak tabu kalah bermain sepak bola di De Toekomst. ”Kalah bertanding bukan kejahatan,” tegas David Endt, Manajer Umum Tim Utama Ajax.
Dari segi teknik, pemain berusia 7-12 tahun tidak digenjot untuk meningkatkan skill sepak bola. ”(Untuk mereka), saya ingin mengembangkan seluruh aspek koordinasi seperti berlari, melompat, melempar, dan menangkap. Saya yakin, itu fondasi dasar bagi semua atlet, dari cabang apa pun,” papar Rene Wormhoudt, Pelatih Fisik Ajax, kepada FourFourTwo.
Di bawah usia 13 tahun, 40 persen materi latihan tidak secara khusus terkait sepak bola. Hingga usia 12 tahun, pemain berlatih tiga kali sepekan plus satu laga di akhir pekan. Masuk usia 15 tahun, latihan meningkat jadi lima kali per pekan. Apa pun kelompok umurnya, mereka selalu berlatih dengan bola.
Seluruh kemampuan teknik pemain diukur, direkam, dan dianalisis dalam laboratorium miCoach Performance Centre yang canggih. ”Semua orang di Ajax punya satu tujuan: mencetak pemain muda jadi pesepak bola hebat,” ujar Endt. ”Tentu, banyak orang selalu ingin mencontek sukses (Ajax), tetapi Anda tidak bisa mencontek mentalitas, atmosfer, Amsterdam.” (SAM)

