Jumat, 25 Juli 2014

Bola / Liga Indonesia

2.000 Anak Ikut Seleksi Tunas Garuda di Malang

Minggu, 26 Juni 2011 | 05:31 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Sebanyak 2.000 anak usia 14-16 di Malang, Jawa Timur, ikut seleksi sepak bola Tunas Garuda, sejak 24-25 Juni 2011, di Stadion Gajayana, Kota Malang. Mereka yang lolos seleksi berpeluang mengikuti latihan ke Arsenal.

Dari jumlah tersebut akan diambil 11 anak. Kesebelas anak tersebut masih akan menjalani seleksi lagi untuk diambil menjadi empat anak. Dari empat anak itu juga masih akan diseleksi lagi untuk mengikuti seleksi di Jakarta pada 18 September 2011 nanti.

"Setelah lolos seleksi di Jakarta, akan diikutkan latihan di Arsenal, Inggris. Jadi, dari seluruh kota yang diselenggarakan seleksi, akan diambil 18 anak untuk latihan di Arsenal," kata Ketua Panitia, Rizki Kusumah, Sabtu (25/6/2011).

Seleksi yang dilangsungkan di Malang, menurut Rizki, paling tinggi pendaftarnya dibanding daerah lain yang sudah selesai dilakukan seleksi. Pendaftar di Bandung, misalnya, hanya mencapai 1.450 pendaftar, Palembang ada 1.200 pendaftar, di Makassar ada 1.250 pendaftar, di Jayapura ada 1.500 pendaftar, dan di Semarang ada 1.000 pendaftar.

Menurut Rully Neere, mantan pemain timnas tahun 1978-1985, dalam jumpa persnya, Sabtu (25/6/2011) di Kota Malang, peminta untuk di Kota Malang luar biasa. Berbeda dengan daerah lainnya.

"Selain membeludak, setelah mengikuti seleksi, kemampuan para pendaftarnya luar biasa. Layak Malang dikatakan kota sepak bola. Mungkin karena ada Arema," aku pria yang bertugas sebagai pengawas dari seleksi Tunas Garuda itu.

Lebih lanjut, Rully menyampaikan, proses seleksi itu akan diambil dari semua komposisi, mulai dari kiper, gelandang, striker, dan posisi lainnya. "Di Malang, pesertanya bagus dalam hal skill individunya. Jelas masing-masing daerah karakternya beda-beda," katanya.

Sebenarnya, jelas Rully, anak muda Indonesia banyak yang berkualitas, kemampuannya luar biasa. Hanya saja, tidak dikembangkan dengan serius. "Potensi luar biasa. Namun, tidak dikembangkan," ujarnya.

Ditanya mengapa pemain yunior Indonesia selalu gagal di level Asia, Rully menilai hal itu karena PSSI, selaku wadah organisasi sepak bola, tak maksimal. "Semua itu tak lepas kesalahan dari PSSI, juga rakyat Indonesia yang memang tak sepenuh hati mengembangkan sepak bola," katanya.

Rully mengaku berharap, dari seleksi program Tunas Garuda tersebut, terjadi peningkatan sepak bola Indonesia. "Di luar kepentingan apa pun, program Tunas Garuda itu harus didukung dan cukup bagus. Karena setelah diseleksi, langsung diikutkan latihan ke Arsenal," katanya.

Setelah ikut latihan di Arsenal, kata Rully, minimal bisa mendapatkan pengalaman dari Arsenal dan bisa ditularkan ke teman-temannya di daerah masing-masing. "Apalagi, setelah ikut latihan ke Arsenal nanti, akan disalurkan ke sekolah sepak bola yang ada di daerahnya masing-masing," tuntasnya.


Editor : Tjatur Wiharyo