Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Bang Yos Prihatin dengan Situasi PSSI
Jonathan Pandapotan | Aloysius Gonsaga | Kamis, 12 Mei 2011 | 15:32 WIB
|
Share:
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso (tengah), saat menghadiri acara diskusi mengenai langkah ke depan Ketua PSSI, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Kamis (31/3/2011). Acara yang digelar Harian Warta Kota tersebut membahas apa yang harus dilakukan ketua umum terpilih.

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon Ketua Umum PSSI periode 2011-2015, Sutiyoso, mengaku prihatin dengan keadaan organisasi PSSI saat ini. Menurutnya, sikap saling hujat dan saling tuduh yang terjadi menandakan orang-orang yang berkecimpung di dalam PSSI belum memiliki kedewasaan dalam berorganisasi.

Bang Yos mengatakan, berbagai peristiwa menjelang kongres nanti seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Menurutnya, ini memberi kita kesempatan untuk berbenah diri di dalam organisasi. Tidak hanya sekadar membaca statuta, tapi juga bagaimana menjalankannya sesuai etika dan rasa saling menghargai.

"Bagaimanapun, kita adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi etika dalam bertingkah dan berkata. Tidakkah malu pada diri sendiri jika dalam berorganisasi lalu seenaknya menghujat bahkan memberikan ancaman bagi orang lain, sementara kepentingan yang lebih besar bagi persepakbolaan Indonesia dipinggirkan," tutur Sutiyoso, Kamis (12/5/2011).

Mengenai Komite Normalisasi yang kini terus dihujat Kelompok 78, Bang Yos mengaku yakin langkah yang dilakukan KN sudah tepat.

Seperti diberitakan, KN terus berpegang pada semua surat FIFA. Sutiyoso juga percaya Agum Gumelar sebagai Ketua KN akan tetap tegar dalam menghadapi berbagai gelombang protes.

"Kita mestinya mendukung langkah-langkah KN dalam membenahi segala kisruh yang ada, sekaligus mencermatinya jika terdapat hal yang salah. Bukannya main gertak bergaya preman segala," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

"Jangan sampai kita menjadikan diri sendiri sebagai masyarakat yang tak tahu aturan, mengambil keputusan tanpa pertimbangan dengan menginjak-injak peraturan. Kemenangan sesaat tak akan berarti jika nanti akan menjadi pengadilan sejarah yang tak elok sebagai pelajaran generasi muda," tuntas Sutiyoso.