Minggu, 23 November 2014

Bola / Liga Indonesia

Jauhkan Sepak Bola dari Politik!

Jumat, 14 Januari 2011 | 18:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Keberadaan politisi atau unsur politik dalam persepakbolaan nasional hanya akan menghambat prestasi di dalamnya. Oleh karena itu, desakan menjauhkan politik dari sepak bola sangat perlu.

Pengamat olahraga dari Universitas Indonesia, Ari Junaidi, mengatakan bahwa sejarah sudah membuktikan politik bisa memandulkan prestasi persepakbolaan nasional. "Maka, jauhkan sepak bola dari politik," ungkapnya di ruang pers DPR, Jumat (14/1/2011).

Ari mencatat sejumlah nama politisi yang nangkring di tubuh PSSI periode 2009-2011, seperti politisi Partai Demokrat, Achsanul Kosasih, yang menjadi Bendahara Umum PSSI serta Adjie Masaid yang menjadi Manajer Tim Nasional Indonesia U-23. Selain itu, TM Nurlif dan Ahmadi Noor Supit dari Parati Golkar serta politisi Partai Hanura, Syarifudin Sudding.

Bahkan sang Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang kontroversial saat ini juga masih tercatat sebagai Koordinator Wilayah Sulawesi DPP Partai Golkar. Maka, tak mengherankan jika Nurdin membawa timnas memenuhi undangan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie sesaat setelah menang di babak semifinal Piala AFF 2010 lalu.

"Achsanul dan Adjie masih jadi anggota Dewan, tapi mereka masih jadi pengurus. Padahal, mereka pasti banyak urusan di Dewan. Sudah, lepaskan saja, serahkan pada ahlinya," kata Ari.

Anggota Komisi X DPR, Dedy Gumilar, juga menegaskan, kisruh Liga Primer Indonesia dan PSSI tak jauh dari upaya politisasi. Politisi PDI-P ini mendesak agar unsur politik tidak dicampuradukkan dalam pengembangan PSSI ke depan.

"Jangankan orang parpol, kalau nuansa politik saja masuk ke sana, jangan harap ada prestasi," ujarnya. Oleh karena itu, pria yang sebelumnya tenar sebagai pelawak kawakan ini berharap terdapat perombakan dalam tubuh PSSI melalui kongres April mendatang. Perombakan pengurus di dalamnya dipercaya akan membawa perubahan signifikan di tubuh PSSI dan persepakbolaan nasional.

"Jadi, kalau sampai kepengurusan ini diperpanjang, gila ini. Artinya, enggak ada semangat untuk memperbaiki persepakbolaan negeri ini. Kalau kita tidak percaya lagi terhadap rombongan yang ada sekarang ini, rebut melalui cara yang kosntitusional," tuturnya. 


Editor : R Adhi KSP