


MILAN, KOMPAS.com — Striker anyar AC Milan, Robinho, mengatakan, Pelatih Manchester City tak memahaminya. Menurut dia, klub itu juga mengerikan baginya.
Robinho dibeli Manchester City dari Real Madrid, tetapi dia tak juga menunjukkan permainan terbaiknya. Dia kemudian dipinjamkan ke Santos dan kini dibeli AC Milan.
"Baik Mark Hughes maupun Roberto Mancini (Pelatih City) tak memahamiku. Mungkin mereka hanya tertarik kepada hal-hal olahraga, tapi bagiku itu tak cukup," kata Robinho kepada The People.
"Ada kekurangan kontak antara pemain dan klub. Ini seperti sebuah kantor saja, berlatih dan kemudian mengucapkan selamat tinggal. Bermain, kemudian selamat tinggal lagi. Aku orang Brasil dan tak bisa memberikan penampilan terbaik jika tak bahagia di semua aspek kehidupan," tegasnya.
Dia melanjutkan, "Itulah masalahku. Aku pemain spesial dan harus bahagia kala bermain. Itulah kasusnya di Real Madrid, dan di City lebih parah. Mungkin, seharusnya aku tak meninggalkan Madrid."
Sebenarnya, Robinho sempat bermain bagus di awal kariernya bersama City. Namun, permainannya berangsur menurun.
"Awalnya memang positif. Tetapi, Inggris adalah negara yang keras dan aku kesulitan beradaptasi. Punya teman Elano dan Jo di tim (juga dari Brasil) ibarat sebuah bonus. Mereka membantuku beradaptasi. Namun, Elano kemudian pergi dan aku tak tahu apa motivasi kepergiannya," tutur Robinho.
"Aku tak tahu apa yang dibicarakan orang tentang diriku dan Elano. Kami menunjukkan permainan bagus dalam tim. Elano dan aku sama-sama dari timnas Brasil. Mungkin Hughes tak memahami betapa bagusnya menggunakan kami berdua di tim," ujarnya.
"Setelah itu, Hughes pergi dan kukira Mancini tak cocok denganku. Dipinjamkan ke Santos bagus buatku. Sebab, jika aku tetap di City, aku tak akan dipanggil timnas Brasil ke Piala Dunia 2010. Peminjaman itu juga sukses. Aku kembali menemukan cintaku pada sepak bola, mendapat gelar, dan kembali memperkuat timnas. Santos ingin tetap meminjamku, tapi City kemudian menjualku," katanya.
Lalu, Robinho membuat penilaian, "Manchester memang tempat yang bagus untuk sepak bola, tapi mengerikan untuk hidup. Musim dinginnya dan malam yang begitu gelap sangat sulit buat pemuda Brasil seperti diriku."


