Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
PELATIH
"Monster" Capello Menjawab Kritik
Minggu, 05 September 2010 | 04:20 WIB
|
Share:

Tak ada orang yang lebih lega dibandingkan dengan Fabio Capello seusai Inggris meraih kemenangan 4-0 atas Bulgaria pada laga perdana kualifikasi Piala Eropa 2012 di Stadion Wembley, London, Inggris, Jumat (3/9). Hasil impresif itu sedikit melepaskan tekanan yang harus ditanggungnya menyusul penampilan buruk ”Three Lions” di Piala Dunia 2010.

Kemenangan itu menjadi jawaban sempurna atas kritik bertubi-tubi dari publik Inggris, di antaranya mempertanyakan kapasitas kepelatihan Capello, seusai turnamen di Afrika Selatan. Bahkan, sebuah media mengolok-olok Capello dengan sebuah foto seorang Italia memakai telinga keledai akibat keputusannya mencoret pemain Arsenal, Jack Wilshere.

Akibat tekanan itu, pelatih sekeras Capello pun sempat emosional pada jumpa pers menjelang laga karena merasa diubah menjadi ”monster” oleh media. ”Anda menciptakan dewa, dan kemudian menciptakan monster,” sergah Capello menjawab pertanyaan wartawan.

Pelatih asal Italia ini memang begitu didewa-dewakan menjelang Piala Dunia, tetapi mendapat kecaman bertubi-tubi setelah Inggris tersingkir karena dikalahkan Jerman. Salah satu kritikan yang paling sering adalah mempertanyakan taktik Capello yang terlalu kaku mempertahankan formasi 4-4-2 meski terbukti gagal. Pertandingan melawan Bulgaria menjadi kesempatan pertamanya untuk menjawab berbagai kritikan tersebut.

Capello tetap menurunkan skema 4-4-2 melawan Bulgaria dengan sedikit modifikasi, yakni memasang striker Wayne Rooney agak lebih ke belakang, tidak sejajar dengan duetnya, Jermaine Defoe. Taktik itu mendapat banyak pujian dengan hasil impresif. Kontras dengan penampilannya di Afrika Selatan, Rooney tampil sangat baik.

Membebaskan Rooney

Kunci taktik Capello dalam menghadapi Bulgaria adalah dengan membebaskan peran Rooney di belakang Defoe. Dalam pertandingan itu, Rooney bergerak bebas di lapangan, selalu terlibat dalam setiap serangan Inggris, sangat kontras dengan permainannya di Piala Dunia saat ia menjadi pemain Inggris paling mengecewakan.

”Saya memainkan Rooney berbeda dengan biasanya. Saya berbicara dengannya sebelum pertandingan,” kata Capello mengungkapkan resepnya saat menghadapi Bulgaria. ”Saya tahu banyak mengenai sistem permainan Bulgaria.”

”Saya berkata kepada Rooney agar tetap bertahan di depan dua gelandang tengah (di belakang Defoe) dan dari posisi itu ia boleh maju, bebas, agar bisa memberi umpan lebih banyak,” jelas Capello. Hasilnya, Rooney secara langsung terlibat dalam terciptanya seluruh gol Inggris, tiga untuk Defoe dan satu buat pemain pengganti Adam Johnson.

Penampilan positif Rooney juga tecermin dalam perilaku Capello di pinggir lapangan. Capello—yang sering marah-marah di touchline di Afrika Selatan—terlihat lebih tenang. Sebuah kesalahan, seperti saat Rooney ceroboh mengumpan, bakal memicu kemarahan Capello di Piala Dunia. Namun, kali ini, ia justru hanya bereaksi dengan tepukan pemberi semangat.

Ujian berikutnya bagi Capello adalah melawan Swiss pada 7 September mendatang dalam laga kedua Grup G. Ia mengatakan telah siap menghadapi pertandingan ini. ”Saya berkonsentrasi pada pertandingan, bukan kritikan,” kata Capello. ”Kami bermain sangat bagus. Ini adalah pekerjaan luar biasa dan saya masih memiliki kepercayaan pada tim ini. Dan, saya kira kami masih bisa berkembang.” (ap/afp/ray)