


ROMA, KOMPAS.com - Pelatih tim nasional Italia, Cesare Prandelli, mengajak anak-anak asuhnya untuk melupakan kegagalan mereka di Piala Dunia 2010 lalu. Prandelli menegaskan, satu-satunya cara untuk kembali ke performa terbaik adalah dengan meninggalkan pikiran negatif yang masih menempel di tubuh tim.
"Kami harus melawan pikiran-pikiran negatif. Realita bahwa kami belum pernah menang sekalipun di tahun ini bisa membuat mental tim turun, tapi saya tenang menghadapi masalah ini," tutur Prandelli.
Pada Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan, Italia memang tampil sangat buruk. Datang dengan status sebagai juara dunia bertahan, ternyata tak membuat "La Nazionale" tampil digdaya. Alih-alih mengulang prestasi empat tahun sebelumnya, Danielle De Rossi dkk. justru harus pulang lebih awal, setelah tak mampu lolos dari babak penyisihan grup.
Yang lebih parah lagi, Italia tak pernah sekalipun memetik kemenangan selama memainkan tiga pertandingan di Piala Dunia kemarin. Jumat (3/9/2010), Italia akan memulai kualifikasi Piala Eropa 2012, dengan melawan Estonia.
Walau Estonia terhitung sebagai negara dengan timnas yang lemah, Prandelli menolak untuk meremehkan calon lawan mereka ini. Sebaliknya, pelatih berusia 53 tahun itu meminta skuad "Gli Azzurri" untuk tetap fokus dan meraih kemenangan pertama mereka di tahun ini.
"Anak-anak berlatih sangat bagus dalam beberapa hari ini. Kalah di dua laga selanjutnya mungkin akan menjadi bencana bagi kami, tapi saya yakin, hal itu tidak akan terjadi," ujar Prandelli.
"Memang ada ketegangan, tapi saya tetap harus tenang. Kami akan memainkan pertandingan penting, satu hal yang paling valid di kualifikasi ini, kami akan menghadapi tim-tim yang bagus," lanjutnya.
"Apapun hasilnya nanti akan bergantung pada penampilan kami. Kami penasaran dan punya banyak semangat untuk segera turun ke lapangan. Saya sendiri tetap memegang prinsip, apapun hasilnya nanti, kami harus mendapatkannya dari permainan yang bagus. Yang pasti, kami harus menjadi satu tim dan fokus dalam mencapai hasil (kemenangan)," pungkas Prandelli.


