


LONDON, KOMPAS.com — Penyerang Perancis dan Chelsea, Nicolas Anelka, menuntut mantan pelatih tim nasionalnya bicara jujur soal apa yang terjadi saat keduanya berselisih pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Juni-Juli lalu.
Pada Piala Dunia itu, Perancis berada di Grup A bersama Uruguay, Meksiko, dan Afrika Selatan. Pada saat turun minum laga kedua, yaitu melawan Meksiko, Anelka terlibat konflik dengan Domenech di kamar ganti. Anelka kemudian digantikan Andre Pierre Gignac pada awal babak kedua. Perancis menutup laga itu dengan kekalahan 0-2.
Media Perancis, L'Equipe, kemudian memberitakan, dalam konflik itu, Anelka mengucapkan kata-kata tak pantas kepada Domenech. Atas insiden itu, Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) memulangkan Anelka sebelum Perancis memainkan laga fase grup ketiga, melawan Afrika Selatan.
Pemain-pemain Perancis mengatakan, konflik Anelka dan Domenech terjadi dalam forum tertutup. Bahwa kemudian L'Equipe memberitakan itu, menurut mereka pasti ada pengkhianat yang membocorkan peristiwa tersebut.
Pemain Perancis menanggapi hal itu dengan melakukan aksi mogok latihan. Mereka kemudian kalah 1-2 dari Afrika Selatan dan tersingkir dengan rekor tak pernah menang di fase grup.
Setelah Piala Dunia itu, Domenech digantikan Laurent Blanc. Blanc menilai, sikap pasukan "Les Bleus" di Piala Dunia itu memalukan dan memutuskan tak memanggil satu pun dari mereka, setidaknya, untuk laga persahabatan melawan Norwegia, 11 Agustus mendatang.
Anelka tak membantah dirinya terlibat konflik dengan Domenech. Menurutnya, ia memprotes kebijakan Domenech memasangnya sebagai penyerang tengah, meski tahu bahwa posisi terbaiknya adalah penyerang sayap kanan.
Mengingat insiden itu berdampak luas dan besar, Anelka pun meminta Domenech bicara jujur. Ia mengaku berharap, pengakuan Domenech akan mengurangi aib mereka di Piala Dunia itu sekaligus meringankan langkah "Les Bleus" pada masa mendatang.
Sekadar catatan, tak lama setelah L'Equipee memberitakan itu, ibu Domenech mengecam Anelka.
"Kami kembali ke kamar ganti, dan selama lima menit, pemain bicara. Pelatih tiba dan mengatakan, 'Sial, Nico. Saya meminta kami untuk tidak turun dan tetap di depan,'" ujar Anelka.
"Aku mengatakan kepadanya, bila aku tetap di sana, maka aku tak mendapatkan bola dan mengatakan, 'Berhentilah menyuruhku tetap di depan. Aku tak akan tetap di depan.'"
Menurut Anelka, ketegangan berlanjut sampai Domenech memutuskan mengganti Anelka pada babak kedua. Kapten Patrice Evra disebutnya berusaha meredakan ketegangan, tetapi Domenech bertahan pada keputusannya.
"Ia mengatakan, 'Pergi, tak apa-apa, pergi,' dan kemudian meminta salah satu asistennya meminta Dede (Andre-Pierre Gignac) siap. Aku katakan, 'Tak masalah. Urus saja tim kamu,'" lanjut Anelka.
"(Evra) dan Franck (Ribery) duduk di dekat saya dan mengatakan, "Berhenti Nico, tenang. Lupakan, Diam. (Evra) kemudian memintaku mengenakan seragam dan (Evra) mengatakan kepada pelatih bahwa hal-hal seperti itu sering terjadi dan ia seharusnya tak bereaksi dan menyuruh (Anelka) pergi."
"Lagi-lagi, pelatih tak mendengarkan itu dan melakukan pergantian (memasukkan Gignac)."
"Aku ingin melihat Domenech mengaku kepada dunia bahwa aku tak menggunakan kata-kata itu. Aku berharap ia berkata jujur dan mengatakannya kepada ibunya juga."
"Penyesalan terbesarku adalah aku tak diberikan kesempatan untuk bermain di posisi terbaikku. Bila pelatih ingin pemain yang beroperasi hanya di kotak, maka ia seharusnya tak memilihku. Ia membuat kesalahan dalam menyeleksi," paparnya. (SKY)

