Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Madrid Bisa Mengubur Khedira
Tjatur Wiharyo | Sabtu, 24 Juli 2010 | 08:56 WIB
|
Share:

BERLIN, KOMPAS.com — Setidaknya sudah setahun ini gelandang Sami Khedira menjadi perhatian banyak pencinta sepak bola dunia. Itu tak lepas dari penampilannya ketika memimpin tim U-21 Jerman mempermalukan The Walcott dkk 4-0 di final Piala Eropa 2009. Setahun kemudian, ia membantu Jerman merebut tempat ketiga Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Pemain berusia 23 tahun ini seakan menyimbolkan kontinuitas regenerasi "Der Panzer" dan filosofi pembaruan yang diusung Pelatih Joachim Loew. Khedira yang ditempatkan di titik tumpu skema permainan Loew mampu memainkan peran yang ditinggalkan Michael Ballack. Bersama Bastian Schweinsteiger, Khedira menjadi poros yang menopang pergerakan dinamis "Der Panzer".

Jose Mourinho terusik melihat bakat emas terserak di liga kelas dua. Meski sudah memiliki Xabi Alonso, Fernando Gago, dan dua pemain bernama belakang Diarra, toh ia tetap mengidentifikasi Khedira sebagai sasaran transfernya.

Bermodal status dan reputasi tim terkenal nan kaya-raya yang jarang ditolak targetnya, Madrid mengajukan proposal membeli Khedira kepada Stuttgart. Dengan masa kontrak yang tinggal setahun, Stuttgart bakal kesulitan menolak pinangan Madrid.  

Namun, mengingat usia Khedira masih begitu belia, akankah ia sanggup mempertahankan binarnya di belantara bernama Santiago Bernabeu, di mana bakat bagus tak selalu berbuah manis, bahkan tak jarang tak sempat berkembang. Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya apabila Khedira mendengarkan saran dan belajar dari nasihat orang Jerman yang pernah merasakan kerasnya persaingan di klub semegah "Los Blancos", Guenter Netzer.

Setelah sepuluh tahun membela Borussia Muenchengladbach, Guenter Netzer merumput di Santaiago Bernabeu pada 1973-1976. Ia ikut membawa Madrid dua kali menjuarai Divisi Primera sebelum akhirnya pindah ke Grasshopper Club Zurich. Menurut Netzer, pindah ke klub yang tak stabil seperti Madrid bisa merusak bakat dan karier Khedira secara permanen.

"(Madrid) adalah klub yang penuh masalah, musim lalu begitu kacau dan tradisi puasa gelar (belum teratasi). Di sana ada banyak pemain yang sangat mahal, tetapi tak bahagia. Itu adalah salah satu hal yang harus diwaspadai Khedira," ujar Netzer.

Banyak orang sudah bicara dan banyak bukti di depan mata bahwa Madrid semakin condong kepada uang ketimbang prestasi sepak bola. Mereka lebih menyukai sensasi dan popularitas untuk meningkatkan penjualan replika kostum putih-putih mereka. Kecuali sangat beruntung, seorang pemain bakal sulit lepas dari jerat Madrid.

Karim Benzema, Royston Drenthe, dan Gago bukannya tak menyadari mereka semakin teronggok seperti sampah. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena diikat kontrak dan banyak klub besar memilih berburu talenta di klub-klub gurem, yang lebih sering tampil, murah, militan, dan belum materialistis.

Meski begitu, ada segelintir pemain yang tertunduk lesu di Madrid dan kini berlari kencang laksana kijang, Wesley Sneijder dan Arjen Robben, yang meninggalkan Madrid dan membuktikan bahwa ibu kota Spanyol bukanlah sarana satu-satunya menuju kejayaan.

Khedira tak diragukan lagi merupakan pemain berkualitas langka. Ia memiliki mata tajam untuk melihat celah dan ayunan kaki yang membuat bola melewatinya, insting menemukan posisi tepat untuk diri sendiri, dan daya juang tinggi. Christian Gross menyebut Khedira sebagai pemain yang kepadanya permainan tim berpusat.

Ia pun pantas bermain di klub yang lebih baik ketimbang Stuttgart. Akan tetapi, dari kacamata olahraga, bermain reguler di klub gurem jelas jauh lebih baik ketimbang makan gaji buta di klub raksasa. Namun, kecuali Khedira sendiri, tak seroang pun bisa mencegah kepergiannya ke pertempuran hidup-mati di Bernabeu.

Kepada Bild, Khedira telah mengatakan hanya akan meninggalkan Stuttgart untuk Real Madrid dan Mourinho. Namun, sebelum itu, ia mungkin bisa berkonsultasi dengan mantan rekan seklubnya, Aleksandr Hleb yang pernah merasakan bagaimana bakat besarnya mati total di Barcelona.

Bagi Stuttgart, kepergian Khedira ke Madrid akan merupakan keuntungan, baik dari segi finansial maupun olahraga. Dengan menjual Khedira, mereka bisa mendapatkan uang tunai sampai 15 juta euro atau sekitar R 174 miliar dan pada Januari mendatang, atau paling tidak akhir musim 2010-2011, mereka mungkin bisa kembali mendatangkan Khedira sebagai pemain pinjaman.

Memang, apabila jadi pindah, tak tertutup kemungkinan Khedira bisa sukses di Madrid pada musim pertamanya. Namun, dengan usia yang masih begitu belia, tak ada salahnya Khedira menunda kepergiannya. Selain memberi kesempatan diri sendiri dihargai lebih tinggi, Khedira juga akan meluaskan pandangannya bahwa ia juga bisa mencapai sukses di klub selain Madrid dan di bawah asuhan pelatih selain Jose Mourinho. (GL)