


LONDON, KOMPAS.com - Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, mengaku masih sakit hati karena timnya kalah dari Barcelona di final Liga Champions 2006. Dia pun bertekad membalasnya pada pertemuan kedua tim di perempat final Liga Champions nanti.
Pada final itu, kiper Jens Lehmann dikeluarkan wasit Terje Hauge dari Norwegia, karena dia melakukan pelanggaran kepada Samuel Eto'o di luar kotak penalti. Padahal, saat pertandingan baru berjalan 18 menit. Arsenal akhirnya kalah 1-2 dan gelar Liga Champions yang sudah mereka impikan sepanjang sejarah, lenyap begitu saja. Ini menyadi kekalahan paling menyakitkan buat Wenger.
"Saya tak bia benar-benar melupakan pertandingan itu. Apalagi di Liga Champions, Anda tahu sendiri sangat sulit untuk bisa kembali ke final di tahun berikutnya. Memang tak bisa dilupakan, tapi kami harus fokus ke pertandingan berikutnya," jelas Wenger.
Arsenal akan bertemu dengan Barcelona lagi di perempat final. Ini akan sangat menarik, karena kedua tim memiliki permainan atraktif.
"Saya benar-benar kaget, ternyata masih ingat semua detil partai final yang mengecewakan itu. Saya pikir bisa melupakannya. Tapi, begitu saya membicarakannya lagi, semua detil jadi teringat," jelasnya.
"Ya, kami memang kecewa. Saya tak mengatakan bahwa seharusnya kami bisa memenangkan final Liga Champions 2006 itu. Waktu itu, Thierry Henry punya dua peluang emas. Waktu itu, kami juga memiliki musim kompetisi yang fantastis di Liga Champions. Kami hanya kalah sekali dan parahnya itu terjadi di final," sesal Wenger lagi.
Tentang kartu merah kepada Lehmann, Wenger menilai itu kesalahan wasit. Sebab, sebenarnya Lehmann tak melakukan pelanggaran berat dan tak pantas diusir.
"Itu kesalahan wasit. Kami harus bermain 10 orang di final Liga Champions. Ketika wasit membuat keputusan penting, seharusnya dia benar-benar yakin atas apa yang dia putuskan. Janganlah membunuh sebuah final yang disaksikan semilyar manusia lebih," kritiknya.
Wenger juga menyayangkan keputusan UEFA waktu itu yang menunjuk wasit dari Norwegia. Sebab, wasit-wasit di negara Eropa Utara memiliki jadwal pertandingan yang minim, sehingga pengalamannya juga kadang kurang memadahi.
"UEFA sering memakai wasit dari Eropa Utara yang hanya memimpin sedikit pertandingan dalam semusim dan di liga kecil pula. Mereka tak terbiasa dengan trik dan akting pemain dari negara seperti Inggris, Italia, dan Spanyol. Hanya karena menghindari kontroversi, UEFA kemudian memilih wasit dari Eropa Utara agar terkesan netral," kecamnya. (SUN)


