


MANCHESTER, KOMPAS.com - Pelatih Manchster United (MU), Alex Ferguson, menilai, kepindahan Cristiano Ronaldo ke Real Madrid, akhir musim lalu, membuat MU semakin dewasa. Pasalnya, tanpa Ronaldo, persaingan tempat utama semakin terbuka dan memicu pemain meningkatkan kualitas.
Selama ada Ronaldo, permainan MU berpusat kepadanya. Ronaldo memborong peran sebagai pengatur serangan sekaligus mesin gol. Ini membuat pemain di posisi lain tak bisa menggali potensi secara optimal.
Saat itu, Wayne Rooney dan Carlos Tevez, misalnya, meski berstatus penyerang, mereka diplot Ferguson bermain melebar, merusak barisan bek lawan, dan membuka ruang bagi Ronaldo. Namun, kini, setiap pemain bermain lebih fokus, sesuai status dan peranannya.
Rooney, misalnya, kini bermain sebagai penyerang tengah dan menjadi mesin gol utama. Sementara itu, Antonio Valencia, Park Ji-Sung, dan Darren Fletcher bisa fokus mengasah kemampuan mengumpan dan menata permainan.
Rotasi dan pembagian tugas yang proporsional membuat setiap pemain bisa menggali potensi diri secara lebih optimal. MU pun mendapatkan keseimbangan dan konsistensi, baik ketika turun dengan pemain utama maupun pelapis.
Hal itu terlihat ketika mereka menghadapi AC Milan di babak 16 besar Liga Champions. Dalam pertandingan dua leg, Ferguson menurunkan komposisi berbeda.
Pada leg pertama, misalnya, Ferguson menurunkan formasi bek Patrice Evra, Jonathan Evans, Rio Ferdinand, Rafael. Di leg kedua, Ferguson menampilkan Patrice Evra, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Gary Neville. MU pun lolos ke perempat final dengan agregat 7-2 (3-2, 4-0).
"Kami kehilangan Cristiano Ronaldo dan itu memukul setiap tim. Namun, ada kedewasaan yang impresif tentang tim ini di Eropa. Itulah poin yang telah kami tingkatkan," ulas Ferguson.
"Ini merefleksikan performa kami saat laga tandang, yang terlihat dari rekor tak pernah kalah dalam 16 pertandingan di ajang Eropa. Sekarang, (pertandingan) menjadi mudah bagi mereka. Tak ada kepanikan yang biasanya tampak ketika kami menurunkan pemain muda," tambahnya. (SUN)


