


LONDON, KOMPAS.com — Sepak bola ternyata mengenal istilah sulap juga. Sulap tiga hari. Itu yang dilakukan striker Arsenal, Nicklas Bendtner.
Ya, dalam waktu tiga hari, Bendtner berhasil memutarbalikkan fakta tentang kemampuannya di lapangan. Sabtu (6/3/2010) lalu, ia dicibir karena menyia-nyiakan banyak kesempatan mencetak gol ke gawang Burnley. Namun, dini hari tadi (Selasa, 9/3/2010), striker Denmark itu menjadi man of the match berkat tiga gol yang dicetaknya ke gawang FC Porto. Seolah semudah membalikkan telapak tangan, seperti sulap.
”Saya bilang sepak bola dapat berubah bagi seorang pemain dalam tiga hari. Cepat naik, cepat turun,” komentar Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, seusai laga yang berakhir dengan skor 5-0 itu.
”Itu juga menunjukkan bahwa dia tidak kehilangan rasa percaya diri di mana ia kembali malam ini dengan fokus bagus dan keyakinan sama. Itu salah satu kekuatannya. Kadar keyakinannya masih relatif stabil,” ujar ”Sang Profesor”.
Bisa dikatakan, Bendtner bermain efektif dalam laga tersebut. Setiap peluang yang didapatnya berbuah gol. Tendangan penaltinya pada menit ke-90 pun dianggap sebagai keberuntungan oleh Wenger karena semestinya jatah eksekutor menjadi tugas Samir Nasri dan Andrei Arshavin. Efisiensi seperti inilah yang diperlukan oleh Wenger pada saat kondisi tim serba terbatas akibat cedera pemain.
”Kami biasanya menjadi tim yang ringkas sehingga satu atau dua pemain sangat penting, baik menyerang, bertahan, demikian pula dalam set piece,” ungkapnya.
Bendtner merupakan pilihan paling rasional bagi Wenger untuk mengisi posisi ujung tombak timnya. Sebab, Robin van Persie masih cedera. Eduardo juga belum bisa tampil maksimal. (ARS)


