


LONDON, KOMPAS.com - Pelatih FC Porto, Jesualdo Ferreira, mengakui timnya menderita oleh gerak cepat Arsenal di laga kedua 16 besar Liga Champions. Akibatnya, Porto tersingkir dengan kekalahan menyakitkan.
Dalam duel di Stadion Emirates, Selasa (9/3/2010) malam, Porto juga berusaha menampilkan permainan tempo tinggi. Namun, gol Nicklas Bendtner di menit ke-10 mengubah segalanya. Lima gol akhirnya bersarang ke gawang Helton dan itu menjadi kekalahan terburuk Porto di kandang Arsenal.
"Arsenal menempatkan kami di bawah tekanan dan mencetak gol cepat," kata Ferreira usai pertandingan. "Di babak kedua, sama saja. Mereka mengendalikan permainan. Saya kira kami tak memanfaatkan kesempatan kami, Arsenal melakukannya. Mereka beruntung dengan itu."
Ferreira menambahkan, jika "The Gunners" konsisten bermain seperti itu, niscaya Manuel Almunia dan kawan-kawan akan menjuarai Liga Champions musim ini. "Arsenal adalah tim yang mencetak gol lebih banyak di fase pertama kompetisi. Mereka tim dengan pemain-pemain hebat," tegasnya.
Dalam laga tersebut, Arsenal sebetulnya tampil tanpa kapten Cesc Fabregas. Theo Walcott, yang bermain bagus pada laga akhir pekan lalu, juga tak dipasang di menit awal. Namun, Pelatih Arsene Wenger masih dapat mengandalkan Samir Nasri dan Andrei Arshavin di tengah. Kedua gelandang inilah yang berkali-kali membuat pertahanan Porto morat-marit.
Umpan Nasri kepada Arshavin mengawali gol pertama dari Bendtner. Berikutnya, assist Arshavin kembali dimanfaatkan dengan baik oleh Bendtner di menit ke-25.
Nasri sendiri mencetak gol di babak kedua lewat proses indah setelah melalui tiga pemain lawan di kotak penalti. Arshavin lagi-lagi menjadi kreator gol keempat yang dicetak oleh Emmanuel Eboue. Bendtner mengakhiri pesta di London tersebut dengan gol dari titik putih. (AP)


