Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Barca Tak Mau Besar Pasak daripada Tiang
lhw | Jumat, 19 Februari 2010 | 14:50 WIB
|
Share:
AFP/JOSEP LAGO
Wakil Presiden Barcelona, Rafael Yuste (kiri); Presiden Barcelona, Joan Laporta; Pelatih Barcelona, Pep Guardiola; dan Sekretaris Teknikal, Txiky Beguiristain, berjabat tangan sebelum konferensi pers di Stadion Camp Nou, Barcelona, 20 Januari 2010.

TERKAIT

BARCELONA, KOMPAS.com — Barcelona tidak ingin belanja lebih banyak dibandingkan pendapatan mereka. Tim yang boros pengeluaran dapat mengakibatkan kompetisi menjadi tidak seimbang.

Saat ini tim-tim Eropa mengalami kesulitan keuangan. Tanda-tanda itu tampak dari lesunya bursa transfer musim dingin pada awal tahun ini. Gejala ketidakseimbangan neraca finansial itu tidak hanya melanda klub-klub kecil seperti Portsmouth, tetapi juga klub sebesar Manchester United dan Real Madrid.

Salah satu penyebab ambruknya keuangan itu adalah besarnya pengeluaran klub untuk membeli dan menggaji pemain. West Ham United dikabarkan tengah berencana memotong gaji para pemain dan staf. Demikian pula Portsmouth, yang sedang menunggu keputusan pailit dari pengadilan.

"Tidak bisa diterima (jika) belanja lebih besar daripada pendapatan," tegas Presiden Barcelona, Joan Laporta, kepada The Times.

"Banyak klub yang (nyaris) bangkrut dan itu tak dapat diterima tidak hanya bagi manajemen, bagi komunitas, karena itu berisiko bagi pemain atau klub, tapi juga karena kompetisi akan menjadi tidak seimbang," tambahnya.

Musim ini Barcelona tak banyak beraktivitas di meja transfer. Pembelian terbesar mereka adalah Zlatan Ibrahimovic, tetapi Barca juga menjual Samuel Eto'o ke Inter Milan.

The Times mengungkapkan, musim lalu Barca mencatat pendapatan sebesar 375 juta euro atau hampir Rp 5,5 triliun. Jumlah ini naik 8,8 persen dibanding pendapatan musim 2007-08 atau dua kali lipat dibanding musim 2003-04 yang mencapai 174,2 juta euro (Rp 2,5 triliun).

Laporta menegaskan bahwa neraca finansial di timnya terkendali. Ia memperkirakan, musim ini klubnya akan mengeruk pendapatan 405 juta euro atau hampir Rp 6 triliun. Prediksi pengeluaran termasuk biaya transfer dan gaji pemain mencapai 375 juta euro.