Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
SEPAK BOLA
Masa Jabatan Presiden FIFA Harus Dibatasi
Jumat, 19 Februari 2010 | 03:24 WIB
|
Share:
GETTY IMAGES
Mohammed bin Hammam

Kuala Lumpur, Kamis - Ketua Konfederasi Sepak Bola Asia Mohammed bin Hammam menyerukan agar masa jabatan presiden FIFA dibatasi maksimal dua kali atau delapan tahun. Seperti dikutip situs The Guardian, Hammam, salah satu figur terkuat sepak bola Asia, mengumumkan niatnya untuk mengajukan proposal radikal sebelum pertemuan Komite Eksekutif FIFA yang akan berlangsung bulan depan di Zurich, Swiss.

Bin Hammam mengklaim bahwa usulannya itu telah mendapatkan dukungan dari setidaknya dua anggota komite eksekutif. ”Beberapa kolega saya akan mengajukan usulan ini kepada Komite Eksekutif FIFA bahwa mandat seharusnya hanya untuk dua kali masa jabatan,” kata Bin Hammam. ”Saya ingin menegaskan bahwa pada masa depan tidak ada presiden FIFA yang akan menjabat lebih dari delapan tahun. Saya ingin agar proposal ini didukung dan diterima.”

Akhir Oktober lalu Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan pencalonannya untuk masa jabatan keempat dalam pemilihan yang akan berlangsung di Zurich tahun depan. ”Saya belum mencapai misi saya di sepak bola,” kata Blatter.

Bin Hammam menegaskan, ia akan mempertanyakan mengapa Blatter tidak mampu ”mencapai misinya”. ”Saya sangat yakin delapan tahun cukup bagi setiap presiden untuk fokus di sepak bola,” kata Bin Hammam. ”Setelah itu ia boleh berbuat apa saja, selain sepak bola.”

Dalam praktik good governance di institusi negara, pembatasan jabatan adalah hal yang wajib. Meski demikian, ide tersebut belum pernah terdengar sebelumnya di FIFA atau asosiasi di bawahnya. Joao Havelange menjadi Presiden FIFA selama hampir seperempat abad sebelum diganti Blatter.

Bin Hammam adalah pendukung Blatter pada pemilihan 2002, tetapi kini menjadi rival sengit Blatter. Pada pertemuan di Afrika Selatan, Desember lalu, Bin Hammam berselisih dengan Blatter soal keputusan mem-bail out Nigeria yang rugi 30 juta dollar AS saat menyelenggarakan Piala Dunia U-17.

Tidak mudah

Mengganti ketua federasi atau asosiasi sepak bola, meski sudah terbukti gagal, tidak pernah mudah. Hal itu dialami oleh publik sepak bola Indonesia yang kecewa dengan kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI. Bahkan saat Nurdin Halid dipenjara karena kasus korupsi upaya untuk melengserkannya tidak berhasil.

Selama tujuh tahun Nurdin Halid memimpin PSSI prestasi sepak bola Indonesia semakin terpuruk. Ditambah lagi, kompetisi juga ”amburadul” dengan maraknya kasus suap serta kerusuhan yang melibatkan pemain, ofisial, dan penonton.

Berbagai pihak menyerukan agar Nurdin Halid mundur karena tidak lagi bisa diharapkan memperbaiki sepak bola Indonesia. Meski terbukti gagal total, Nurdin Halid menolak seruan untuk mundur.

Sementara itu, soal pencalonan tuan rumah Piala Dunia, Bin Hammam mengatakan, upaya Qatar dan Korea Selatan untuk menjadi tuan rumah pada 2022 adalah dalam upaya membawa kedamaian di kawasan itu. Bin Hammam telah berbicara dengan Komite Eksekutif AFC Chung Mong-joon dan Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea Cho Chung-yung untuk mendiskusikan pencalonan kedua negara.

Australia, Inggris, Belanda dan Belgia, Rusia, Spanyol dan Portugal, serta AS mencalonkan diri untuk 2018 atau 2022. Qatar dan Korea Selatan hanya untuk menjadi tuan rumah 2022. Indonesia juga mencalonkan diri, tetapi tampaknya tidak akan mendapat dukungan pemerintah karena pemerintah menghendaki Indonesia fokus dalam perbaikan prestasi sepak bola yang kian terpuruk. (reuters/ray)