Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Terry: Aku Rela Dikekang Istri
Hery Prasetyo | Minggu, 14 Februari 2010 | 04:48 WIB
|
Share:

DUBAI, KOMPAS.com — John Terry sedang menjadi buah bibir di mana-mana dalam beberapa hari ini. Kisah perselingkuhannya dengan Vanessa Perroncel dikupas habis banyak media Inggris, bahkan terungkap pula perselingkuhan-perselingkuhan lainnya.

Akibat terungkapnya perselingkuhannya dengan Perroncel, istrinya, Toni Poole, marah dan pergi ke Dubai bersama dua anaknya. Rumah tangganya pun terancam. Namun, setelah dia menyusul Toni Poole ke Dubai, rumah tangganya terselamatkan.

Sayang, jabatan kapten Inggris yang disandangnya sejak 2006 tetap melayang. Gara-gara perselingkuhannya, Pelatih Inggris Fabio Capello mencopot ban kaptennya. Meski begitu, dia merasa bergairah lagi setelah bertemu istrinya. Lalu, apa ambisi Terry setelah tak menjabat kapten lagi? Bagaimana kehidupan pribadi Terry?

Berikut kutipan wawancara yang dilakukan The Times.

Saat ini Anda telah membela Inggris 59 kali. Lalu, apa obsesi Anda setelah tak menjabat sebagai kapten?

"Aku akan suka jika mencapai 100 caps. Itu targetku. Aku telah mencetak enam gol. Aku ingin lebih."

Bagaimana hubungan Anda dengan istri setelah masalah ini selesai?

"Aku mungkin takkan sering keluar dan aku telah berkomitmen. Dia (Toni) bilang kepadaku bahwa kami harus lebih sering keluar bersama. Aku banyak disibukkan dengan sepak bola. Ketika pulang, aku merasa benar-benar menikmati berada di rumah. Karena kasus ini, aku seperti memperoleh keseimbangan dalam pernikahan, menjaga kebahagiaan istriku, anakku, dan memastikan semuanya berjalan lancar."

Bagaimana dengan anak Anda?

"Sembilan dari sepuluh jam, aku akan berada di bak mandi dengan mereka (dua anak kembar berusia tiga tahun), kemudian  menggunakan piyama, bersiap menonton EastEnders (BBC Opera). Aku hanya mencoba menikmatinya dengan mereka dan memberikan semua waktuku kepada anak-anak."

Sebagai seorang laki dan ayah?

"Anak-anak membantuku sedikit bertumbuh, sesuatu yang mungkin aku perlukan. Saat masuk tim utama, aku selalu minum-minum selepas pertandingan. Pada Natal (2009), aku meminum sampanye dan kemudian mendorongnya ke tengah meja. Jika aku makan dengan istriku, aku menuangkan segelas anggur untuknya dan ia juga melakukannya untukku. Aku bahagia makan di restroran yang bagus bersama istri yang sudah lama tak kami lakukan."

Pandangan tentang Ayah Anda?

"Dia (Ted) banyak menanamkan kami berbagai hal untukku dan kakakku. Ia menekankan kami untuk berkerja keras setiap hari dan melakukan yang seharusnya dilakukan.... Ayahku sering mengatakan bahwa permainanku buruk ketika masih muda.  Aku menangis, tetapi itu jelas membangun karakter dan mengajariku bagaimana menangani berbagai masalah. Sebagai seorang pebola, Anda akan berhadapan dengan banyak hal. Anda harus sabar dan tegar meskipun dalam diri Anda terbakar."

Bisa ceritakan saat Anda bergabung dengan Chelsea?

"West Ham datang untuk menyaksikanku dan mereka membawa ibu dan ayahku untuk makan malam. Namun, akhirnya mereka menyodorkan pilihan Manchester United dan Chelsea. Tetapi ketika hari pertama aku berlatih di Chelsea, aku menyukainya. Lalu aku berkata kepada ayahku, bahwa aku ingin bergabung dengan Chelsea."