


BARCELONA, KOMPAS.com - Barcelona akan menolak sistem pemerataan pendapatan televisi jika sistem baru itu mengurangi kemampuan mereka bersaing dengan tim-tim lain di Eropa.
Hal itu disampaikan oleh Presiden Barcelona, Joan Laporta, kepada Reuters. Saat ini Barcelona dan Real Madrid mendominasi jumlah pembagian pendapatan hak siar televisi di Spanyol. Dua tim besar itu masing-masing memiliki kontrak dengan stasiun televisi senilai kurang lebih 120 juta euro (Rp 1,5 triliun) per tahun atau kira-kira separuh dari total pendapatan 20 klub di Liga Divisi Primera.
Liga sepak bola profesional Spanyol (LFP) saat ini hendak memperkenalkan sistem baru untuk menyeimbangkan pendapatan hak siar di setiap klub secara kolektif. Namun, Barca menolak jika pembagian itu disamaratakan karena itu akan mengurangi kemampuan daya saing mereka di Eropa.
"Saya tidak ingin merusak daya tarik Barcelona karena kami harus bersaing dengan tim-tim lain di negara-negara lain," kata Laporta di kantornya, Rabu (10/2/2010).
"Di Inggris, kita bicara soal 2 miliar euro (Rp 25,7 triliun) untuk hak Premier League. Jadi, kita harus bersaing melawan klub-klub yang mendapat uang lebih banyak dari kami," katanya.
"Namun, jika ada perubahan dalam sistem, kami akan menghadapinya. Saya terbuka untuk sistem lain demi menyeimbangkan apa yang dilakukan setiap klub dalam bisnis mereka. Saya terbuka untuk mendiskusikan kemungkinan lain untuk menghasilkan uang bagi kita semua," pungkasnya.
Sebagaimana tim-tim lain di Eropa, klub-klub di Spanyol juga menghadapi masalah finansial akibat krisis keuangan global beberapa waktu lalu. Sejumlah klub seperti Valencia sudah menyatakan mengalami kesulitan kas, tapi Real Madrid tetap berani menumpuk utang demi bisa membeli pemain-pemain top dunia.

