

Aksi brilian striker Chelsea, Didier Drogba, saat memborong dua gol ke gawang Arsenal, Minggu (7/2), mendapat banyak sanjungan sekaligus cibiran.
Sanjungan tentu saja mengalir dari publik Stamford Bridge. Sementara berbagai cibiran terucap dari mulut masyarakat di Abijan, ibu kota Pantai Gading.
Bagi masyarakat Pantai Gading, siaran sepak bola Liga Inggris sudah menjadi menu utama. Mereka getol di depan layar kaca untuk menyaksikan pemain-pemain negeri mereka, seperti Drogba dan Salomon Kalou.
Antusiasme mereka cukup tinggi. Mereka biasanya selalu bersorak bergembira dan memuji penampilan pemainnya jika mampu mencetak gol. Namun, suasana Minggu lalu sedikit berbeda. Cukup banyak masyarakat yang justru mencibir dan mengeluarkan sumpah serapah saat Didier Drogba mencetak dua gol ke gawang Arsenal.
”Lihat apa yang Drogba lakukan. Dia seperti penipu. Dia mencetak dua gol untuk Chelsea, tetapi tidak bisa melakukannya untuk Pantai Gading di Piala Afrika,” ujar suporter yang menyaksikan laga lewat televisi, seperti dikutip goal.com.
Luapan emosi masyarakat Pantai Gading cukup masuk akal. Di tim nasional penampilan Drogba jauh dari menggembirakan. Dia gagal memperlihatkan talentanya dengan permainan determinasi yang cukup tinggi. Nalurinya seperti hilang dan kemampuan mencetak golnya tidak sehebat jika tampil bersama Chelsea.
”Saya tidak tahu apakah dia takut cedera atau karena Federasi Sepak Bola Pantai Gading tidak membayarnya dengan layak,” kata seorang warga, seperti dikutip goal.com.
Dari sisi kondisi tim, memang tidak adil membandingkan permainan Drogba di Chelsea dengan di Pantai Gading. Di Chelsea, Drogba punya teman tim yang jauh lebih mumpuni dibandingkan dengan di tim nasional Pantai Gading.
Namun, apa pun tudingan mereka, setidaknya Drogba masih punya kesempatan membuktikan bahwa dirinya tidak menipu bangsa dan negaranya saat berlaga di Piala Dunia 2010.

