Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Mourinho Belum Cinta Italia
tjatur | Senin, 08 Februari 2010 | 15:28 WIB
|
Share:

MILAN, KOMPAS.com - Pelatih Inter Milan, Jose Mourinho, mengaku belum mencintai sepak bola Italia. Karenanya, meski berniat menghormati kontraknya hingga 2012 nanti, ia mengungkapkan bahwa ada klausul kontrak yang memungkinkannya hengkang sebelum akhir masa kerja.

"Bagaimana cinta saya kepada Italia berakhir bila saya tak pernah mencintainya? Klub dan saya menyepakati kontrak sampai 2012. Namun, ada klausul pembatalan kontrak, di mana Inter akan membayar sata bisa merela menginginkan kepergian saya dan saya akan membayar Inter bila saya ingin pergi," ungkapnya.

Pernyataan itu dinilai media Inggris dan Italia sebagai usaha Mourinho menarik minat klub Premier League untuk menggunakan jasanya. Pasalnya, dalam beberapa kesempatan, Mourinho juga pernah mengungkapkan keinginan untuk kembali ke Premier League.

Secara khusus, Liverpool dan Manchester City merupakan klub yang disebut ingin mendatangkan Jose Mourinho. Sementara City membutuhkan pelatih top untuk membesarkan City, Liverpool menginginkan pelatih yang sanggup mengembalikan kebesaran mereka.

Untuk misi itu, Mourinho merupakan salah satu ahlinya. Sejauh ini, ia telah membuktikan diri mampu membentuk tim biasa menjadi disegani, misalnya ketika membawa FC Porto menjuarai Liga Champions 2004 dan mengantar Chelsea menjuarai Premier League 2005 dan 2006.

Lebih jauh, kedua tim itu masih mampu menjaga persaingan di level tinggi, meski tak lagi dibimbing Mourinho. Padahal, sebelumnya, kedua tim itu kurang diperhitungkan bisa mencapai level konsistensi seperti itu.

Menurut Mourinho, Inter juga tak jauh berbeda dengan tim-tim itu. Namun, karena menyukai tantangan, ia bertahan dalam kesulitan itu. Lebih dari itu, ia berniat menjadikan Inter tim yang sangat kuat, bahkan ketika ia tak lagi melatih tim itu.

"Saya menyukai hal sulit. Saya suka bekerja di Inter. Jadi, saya baik-baik saja. Posisi saya selalu berada dalam bahaya karena saya selalu melatih klub yang diinginkan banyak pelatih. Saya selalu membangun tim untuk tahun-tahun mendatang, karena saya selalu meninggalkan kerja dan struktur bagus untuk mereka (pelatih baru) yang datang," ungkapnya.

"Namun, bila tempat saya (di Inter) berada dalam bahaya setelah memenangi liga dan sekarang memimpin klasemen dan sekarang lolos (ke babak 16 besar) Liga Champions, bayangkan seperti apa mereka yang berkali-kali gagal mencapai target," tambahnya. (DM)