

JAKARTA, Kompas.com - Koordinator Satgas Anti Suap (SAS) PSSI Bernhard Limbong siap membawa pelaku pengaturan skor di Kompetisi Liga Indonesia segala tingkatan kompetisi ke pengadilan umum. Menurut Limbong pihaknya akan bekerja serius dan tidak setengah hati.
"Kami tidak main-main mendapat amanat Satgas Anti Suap, kami akan membawa pelaku pengatur pertandingan atau makelar pertandingan di kompetisi liga Indonesia," ungkapnya ditemui di Sekretariat PSSI, Rabu (27/1/10).
Dikatakan, para pelaku makelar pertandingan (Mardin) bisa saja terdiri dari wasit, ofisial, manajer hingga pemain. Jadi nanti kalau ditemukan bukti yang akurat dan bisa dijadikan bahan bukti telah terjadi pengaturan skor pertandingan di Liga Indonesia, SAS langsung mengajukannya ke pengadilan umum, jelasnya.
Namun demikian, SAS tidak semena-mena langsung menjatuhkan vonis terjadi pengaturan pertandingan jika ada wasit yang terlibat. "Namanya juga manusia, bisa wasit itu menjadi korban, wasit bisa saja dipaksa atas keinginan oknum tim yang menginginkan timnya menang, kemudian wasit yang dijadikan kambing hitam, pokoknya kami di satgas tidak membabi buta menangani kasus pengaturan pertandingan, masih akan dilihat lebih detail lagi," paparnya.
Menurut Limbong yang berpangkat Brigjend TNI-AD ini, untuk tahap awal SAS akan melakukan inventarisir beberapa kasus pengaturan pertandingan. "Karena saat kongres PSSI di Bandung tanggal 16 Januari lalu ofisial Persiba Bantul yang mengangkat kasus pengaturan skor, maka ofisial Persiba itu yang akan akan kita mintai klarifikasi," ujarnya.
Limbong menambahkan, dalam melakukan investigasi mendatang, SAS tidak akan pandang bulu, siapa pun yang terlibat akan diusut tuntas. "Kami tidak pandang bulu, meski nantinya ditemui pelaku pengaturan pertandingan adalah seorang ketua umum PSSI, saya akan membawanya ke pengadilan umum, masalah pengaturan pertandingan itu adalah suap, maka sudah bisa dibawa ke pengadilan umum," urainya.
Limbong mengaku dirinya tidak ada kepentingan di PSSI. "Makanya saya tidak pandang bulu dalam bertugas di Satgas Anti Suap ini, saya tidak ada kepentingan, yang saya inginkan adalah sepak bola Indonesia bisa berjalan di atas rel yang sudah ada," selorohnya.

