


MANCHESTER, KOMPAS.com - Penyerang Manchester City, Carlos Tevez, menyatakan, City adalah klub yang tepat untuknya. Selain bisa mengekspresikan kemampuannya secara lebih maksimal, ia juga merasa lebih dicintai, ketimbang saat membela Manchester United (MU).
Sebelum pindah ke City akhir musim lalu, Tevez sempat membela MU selama dua musim, sebagai pemain pinjaman dari pemilik hak ekonominya, Kia Joorabchian.
Sayangnya, di saat masa pinjamnya berakhir, akhir musim lalu, MU enggan membelinya secara permanen. Mereka menilai, harga 25 juta poundsterling atau sekitar Rp 387 miliar yang diminta Joorabchian terlalu mahal untuk ukuran Tevez.
Tak kunjung mendapat kepastian, Tevez membuka diri terhadap tawaran City. Begitu negosiasi Tevez-City memasuki babak akhir, MU menyatakan siap memenuhi harga yang diminta Joorabchian. Namun, demi alasan etika bisnis, Joorabchian menolak tawaran MU. Tevez sendiri mau tak mau menuruti aturan main Kia.
Begitu musim berganti, Tevez resmi menjadi bagian dari klub rival sekota MU. Di City, Tevez mendapat jam terbang yang lebih baik ketimbang musim terakhirnya di MU. Perlahan namun pasti, Tevez pun tumbuh menjadi pemain yang penting dan menentukan bagi City.
Meski begitu, Tevez bertekad akan selalu menghormati MU sebagai klub yang telah ikut membesarkan kariernya. Karenanya, ketika Tevez untuk pertama kalinya kembali ke Old Trafford sebagai pemain City untuk duel Premier League, 20 September silam, ia mengharapkan sambutan hangat dari tuan rumah.
Sayangnya, harapan Tevez berbeda dari kenyataan. Sepanjang laga, pendukung MU mencemooh Tevez yang dinilai telah mengkhianati MU demi gaji besar di City. Tevez mengaku bisa mengerti kekecewaan pendukung MU dan tetap sabar. Namun, ketika wasit memberikan injury time selama lima menit, yang membuat MU bisa memaksakan keunggulan 4-3 berkat gol Owen menjelang akhir laga, kesabaran Tevez habis.
Menurut Tevez, sebagai pemain profesional, ia ingin meraih kemenangan bersama tim. Kehilangan poin di masa injury time yang terlalu panjang pun dirasakannya sebagai ketidakadilan. Ia pun berjanji akan membalas itu di pertemuan berikutnya.
Takdir kemudian mempertemukan MU dan City di semifinal Piala Carling. Di leg pertama, 19 Januari lalu, City menjamu MU dan menang 2-1, berkat sepasang gol Tevez. Aroma rivalitas permusuhan semakin kental, manakala di tengah laga, Tevez dan Gary Neville melakukan perang bisu. Sementara Tevez mengarahkan tangan ke arah Neville sambila membuka dan menguncupkan jari-jarinya, Neville membalasnya dengan acungan jari tengah.
Nasi sudah menjadi bubur. Hasrat Tevez menjaga keharmonisan dengan mantan timnya malah membuahkan permusuhan. Sepasang golnya dengan sendirinya menegaskan di pihak mana Tevez bediri dan sudah terlambat untuk mundur.
"Sambutan yang aku terima dari saat pertama tiba di City sangat istimewa. Aku diciptakan untuk merasakan cinta dan ini berarti banyak bagi pesepak bola. Aku merasa telah ditunjukkan bahwa aku berada di klub yang tepat sekarang," ungkap Tevez.
"Setiap orang tahu betapa pentingnya pendukung di klub ini dan bila aku bisa membahagiakan mereka, itu adalah kehormatan. Aku pikir, pendukung United tahu aku telah berusaha keras (untuk mendapatkan kehangatan saat masih di Old Trafford). City adalah klubku sekarang, sebuah tempat di mana aku merasa menjadi bagian dari segalanya. Mungkin, jalanku bukan di United," tandasnya.
Kini, Tevez membulatkan tekad untuk tampil bagus di leg kedua semifinal Piala Carling, Kamis (28/1/2010). Menurutnya, dendam kepada MU tak akan tuntas bila City belum memastikan diri lolos ke final Piala Carling. (SCN)

