Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
SEPAK BOLA
"Bonek" Bikin Geger
Rabu, 27 Januari 2010 | 02:41 WIB
|
Share:

Suporter Persebaya Surabaya yang disebut bonek (bondo nekat) kembali bikin geger. Dalam perjalanan ke Bandung untuk mendukung Persebaya melawan Persib Bandung di ajang Djarum Liga Super Indonesia, Sabtu (23/1), mereka melempari rumah dan bangunan yang ada di daerah Solo dan sekitarnya. Di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, mereka memaksa masuk stadion tanpa tiket, dengan memanjat tangga.

Ironisnya, ulah itu justru pada saat mereka berstatus terkena sanksi Badan Liga Indonesia, tidak boleh menyaksikan pertandingan di luar Surabaya dengan menggunakan atribut bonek. Sanksi ini dijatuhkan akibat ulah mereka melempari bus yang ditumpangi pemain Arema Malang ketika bertanding melawan Persebaya di Surabaya.

Bisa jadi, bonek memang menjadi fenomena yang agak berbeda dengan komunitas suporter sepak bola yang lain. Kalau komunitas lain membentuk kelompok baru dan mencari nama diri, seperti ”The Jack” (Persija Jakarta), ”Viking” (Persib Bandung), ”Aremania” (Arema Malang), ”Sakera” (Persekabpas Kabupaten Pasuruan), sebutan bonek adalah pemberian masyarakat, khususnya Surabaya, terhadap suporter fanatik Persebaya sesuai dengan karakternya yang bondo nekat (modal nekat). Misalnya, walau tidak punya uang untuk membeli tiket, mereka tetap pergi ke stadion. Dalam perjalanan mereka minta sumbangan kepada pengemudi mobil. Mereka menumpang truk, pikap, atau kereta api. Yang penting gratis. Bahkan berjalan kaki tanpa sandal belasan kilometer pun dijalani.

Lihat apa yang dilakukan Aris, warga Bagong Ginayan, Kota Surabaya. Bonek ini ke Bandung hanya berbekal uang Rp 5.000 yang habis untuk membeli rokok. ”Untuk makan, ya minta di jalan-jalan atau ikut makan punya teman. Untuk tiket masuk stadion, saya tidak pernah berpikir. Ya untungnya kok bisa masuk gratis dengan memanjat tangga,” katanya tertawa. Bahkan, banyak bonek yang pekan lalu pergi ke Bandung sama sekali tidak berbekal uang.

Julukan bonek itu mengandung makna ganda. Di satu sisi terkandung kekaguman akan besarnya semangat dan fanatisme, di sisi lain menganggap mereka tidak berpikir jauh, ngawur.

Gagal ganti nama

Yang jelas, menurut budayawan Surabaya, Kadaruslan, julukan bonek itu pas dengan kepribadian ”Arek Surabaya”. ”Kepribadian demikian bukan hanya terjadi sekarang, tetapi sudah ada sejak lama. Lihat saja, ketika ’Arek Surabaya’ melawan tentara Sekutu dengan bambu runcing, katapel. Padahal Sekutu bersenjatakan bedil, tank, meriam, rudal. Apa yang dilakukan Arek Surabaya itu bukan bondo nekat?” kata Cak Kadar.

Komunitas suporter Persebaya pun menerima julukan bonek itu dengan bangga. Maka, segala upaya mengganti nama itu berakhir dengan kegagalan. Gubernur Jawa Timur ketika itu, Basofi Sudirman, misalnya, pernah menyindir dengan sebutan boling alias bondo maling (modal mencuri). Lalu sempat diciptakan nama Persebaya Fans Club (PFC).

Wali Kota Surabaya Sunarto Sumoprawiro (waktu itu) menganggap onar yang dilakukan bonek masih sebatas kenakalan anak-anak. Untuk itu, dia menobatkan dirinya sebagai bapaknya bonek. Maksudnya, dengan menjadi bapak, dia akan mudah membina dan memberdayakan anak-anaknya tersebut.

Pembinaan dan pemberdayaan ternyata tak pernah menyentuh bonek. Persebaya sebagai sebuah lembaga tidak membina dan memberdayakan bonek agar menjadi suporter yang fanatik, tetapi tidak membuat onar dan ngawur. Mereka cuma dijadikan sumber pemasukan finansial. Bahkan, ada organisasi yang seolah membina bonek, tetapi ternyata malah sering kali memolitisasi bonek untuk kepentingannya sendiri. Bonek pun dikerahkan dalam pilkada atau demonstrasi masalah lain di luar olahraga. Jadi bonek pun dijadikan ajang bisnis.

Persebaya dan Pemerintah Kota Surabaya punya tanggung jawab membina dan memberdayakan bonek. Di antaranya menyediakan fasilitas bonek untuk mengekspresikan jati dirinya secara tepat sehingga bisa mengorganisasi diri sendiri.

(ANWAR HUDIJONO)