Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Drogba, Sepak Bola, dan Kepedulian Sosial
lhw | Rabu, 06 Januari 2010 | 14:53 WIB
|
Share:
AFP/Ian Kington
Striker dan kapten Pantai Gading, Didier Drogba.

ABIDJAN, KOMPAS.com — Sepak bola tidak pernah mengenal kata permusuhan. Sportivitas di dalamnya membuat olahraga ini dapat mempersatukan banyak hal. Itulah yang diharapkan striker Chelsea, Didier Drogba. Ia ingin sepak bola dapat menyatukan negara-negara yang sedang berseteru, terutama di Afrika.

Dalam waktu dekat, Drogba akan memperkuat Pantai Gading dalam turnamen Piala Afrika di Angola. Pada turnamen sebelumnya, Drogba pernah mengantar tim negaranya menuju final di Mesir pada 2006. Ia melihat kegemilangan Pantai Gading waktu itu mampu menyatukan warga negara yang waktu itu sedang dilanda perang sipil.

"Kami hendak ke Mesir untuk Piala Afrika dan melihat wajah penduduk saling dengki, sehingga kami pikir kami perlu pergi ke sana dan merayakan (kemenangan) bersama mereka," kata Drogba di situs Chelsea.

"Ketika aku berpeluang menjadi Pemain Terbaik Afrika, aku minta kepada presiden untuk membuat laga di Bouake dan timnas dapat pergi ke sana memberikan banyak arti. Masyarakat berpikir, jika Toure dan Drogba ada di sana, perang berakhir dan kami dapat kembali pulang. Sepak bola sangat penting. Sepak bola adalah duta perdamaian," tambahnya.

Meski demikian, Drogba tidak mau hidupnya terkekang dalam dunia sepak bola. Gaya hidup pemain sepak bola di Inggris, menurutnya, telah mengaburkan jiwa pemain yang sesungguhnya. Pemain bola seperti dia juga peduli dengan masalah-masalah sosial. Melalui Yayasan Didier Drogba, mantan pemain Olympique Marseille itu turut membantu kegiatan kemanusiaan. Lewat yayasan itu pula, Drogba mendirikan rumah sakit baru di kota kelahirannya, Abidjan.