Selasa, 29 Juli 2014

Bola / Internasional

Xavi Hernandez: Dirigen Penentu Irama Permainan

Senin, 4 Januari 2010 | 16:40 WIB



POSTURNYA tak seideal pemain bola profesional di benua Eropa. Dengan tinggi "hanya" 1,70 meter, Xavi mungkin lebih cocok bermain di benua Asia, yang rata-rata tinggi pemainnya seperti dia. Tetapi siapa sangka, gelandang asal klub Barcelona ini justru tampil memesona di benua biru, bahkan dia diakui sebagai salah satu playmaker terbaik di jagad ini.

Terbukti, pemain dengan nama lengkap Xavier Hernandez i Creus tersebut menyabet gelar Man of the Match di final Liga Champions 2009 saat Barcelona menaklukkan Manchester United 2-0. Setahun sebelumnya, pemain kelahiran Terrassa, Spanyol, ini juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik di Piala Eropa 2008 setelah sukses membawa "El Matador" menjadi juara kompetisi sepak bola antar-negara paling bergengsi di benua biru tersebut.

Ini merupakan sebagian kecil prestasi Xavi sejak melakukan debutnya sebagai pemain utama di Barcelona pada 18 Agustus 1998. Dia juga masuk nominasi lima Pemain Terbaik FIFA tahun 2008, dan nyaris selalu memperkuat timnas Spanyol, mulai dari Olimpiade 2002, Piala Dunia 2002, Piala Eropa 2004, Piala Dunia 2006, serta Piala Konfederasi 2009.

Selalu tampilnya Xavi dengan tugas sebagai playmaker, tak lepas dari visi bermain dan skill individu yang dimilikinya. Semua itu dia buktikan di level klub, di mana dirinya merupakan dirigen tim untuk menentukan irama permainan. Karena itu, Xavi-lah yang sangat berperan untuk menjaga keseimbangan tim, baik saat menyerang ataupun bertahan. Dari kakinya juga kerab lahir umpan-umpan terukur yang memanjakan striker untuk membobol gawang lawan, atau dia sendiri yang mencetak gol, terutama dari eksekusi bola mati.

Performa Xavi juga selalu konsisten, meskipun dia sempat cedera ligamen lutut kiri yang memaksanya beristirahat lima bulan. Ketika merumput lagi pada bulan April 2009 lalu, Xavi langsung memberikan kontribusi yang sangat besar, termasuk memberikan empat assist (bagi Carles Puyol, Thiery Henry dan dua kali untuk Lionel Messi), ketika Barcelona bantai Real Madrid 6-2 dalam El Clasico pada 2 Mei--hasil ini juga yang memastikan Barcelona menjadi juara La Liga.

Karena itu, wajar jika manajemen Barcelona tak pernah rela melepaskan pemain berusia 29 tahun ini hengkang dari Nou Camp. Bahkan, pada musim 2008/09 lalu Xavi diikat dengan kontrak baru yang membuatnya tetap di Nou Camp hingga tahun 2014. Kontrak baru ini menempatkan Xavi sebagai salah satu pemain dengan gaji tertinggi, yang diperkirakan mencapai 7,5 juta euro (sekitar Rp 106,272 miliar) per tahun.

Seperti di klub, di level internasional pun Xavi memiliki peran yang sangat penting. Tak heran jika dia selalu masuk skuad reguler sejak melakukan debutnya di timnas senior pada 15 November 2000 melawan Belanda. Bahkan, dalam kondisi cedera pun namanya tetap masuk dalam skuad tim.

Ini terjadi pada Piala Dunia 2006, di mana pelatih Luis Aragones tetap membawa Xavi yang sedang bergelut dengan cedera ligamen lutut. Perjudian Aragones ini mendapat kecaman, karena dia dinilai membebani tim.

"Orang mengatakan bahwa ini adalah perjudian ketika saya membawa Xavi bersama kami. Tetapi saya mengatakan, meninggalkannya di rumah adalah perjudian yang gila," ungkap Aragones yang mengakhiri penantian panjang selama 44 tahun publik sepak bola Spanyol, dengan mempersembahkan gelar juara Piala Eropa 2008.

Ternyata, keputusan Aragones membawa Xavi itu tidak terlalu mengecewakan, karena dia memberikan kontribusi yang besar dengan meloloskan Spanyol dari babak penyisihan sebagai juara Grup H. Bahkan di laga perdana saat Spanyol membekap Ukraina 4-0, Xavi menjadi Man of the Match. Sayang, langkah mereka terhenti di babak kedua setelah ditaklukkan sang finalis, Perancis, dengan skor 1-3.

Kebintangan Xavi bersinar terang di Piala Eropa 2008. Menjadi partner Andres Iniesta di lapangan tengah, mereka membuat permainan Spanyol menjadi sangat menawan dan sulit dibendung oleh tim manapun sehingga semua lawan bisa ditaklukkan.

Saat menaklukkan Rusia di semifinal, Xavi menyumbang satu gol yang membuatnya sebagai pencetak gol ke-500 di ajang tersebut (Piala Eropa,red). Kemudian, assistnya di final menjadi penentu kesuksesan Spanyol, karena bola dari kakinya bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh Fernando Torres untuk membobol gawang Jerman, yang membuat Spanyol untuk kedua kalinya menjadi juara Eropa setelah menunggu selama 44 tahun. Inilah yang membuat Xavi terpilih sebagai Pemain Terbaik.

Nah, untuk Piala Dunia 2010, Xavi kembali mendapat kepercayaan dari pelatih baru, Vicente del Bosque, yang menggantikan Aragones. Gelandang elegan ini kembali menunjukkan aksi-aksi gemilang untuk membawa "La Furia Roja" melewati babak kualifikasi dengan hasil fantastis, karena selalu menang dalam 10 pertandingan yang dilakoni. Mereka lolos ke Afrika Selatan dengan status juara Grup 5 Zona Eropa.

Sanggupkah Xavi menjadi dirigen yang baik bagi rekan-rekannya untuk melanjutkan masa keemasan mereka? Dengan tekad mencetak sejarah baru untuk pertama kalinya menjadi juara Piala Dunia, Xavi pasti bisa menciptakan irama permainan yang indah bagi Spanyol demi mewujudkan impian itu. (*)


Editor : hpr