


JIKA ditanyakan kepada orang Afsel siapa pemain legendaris negeri itu, hampir semua akan menjawab Jomo Sono. Pemain era 170-an dan 1980an awal. Dia merupakan pemain Afsel pertama yang bisa bermain di luar negeri dan berprestasi, bahkan seklub dengan legenda Brasil, Pele.
Namun, bukan itu saja. Jomo yang bernama asli Matsilela Ephraim Sono, memang punya permainan luar biasa. Sebagai gelandang, dia jago mengkreasi permainan dan punya umpan yang akurat. Dribelnya juga hebat dan berani menyerang, melesat seperti panah yang sulit dihentikan.
Padahal, karier sepak bolanya seperti kebetulan, meski ayahnya mantan pemain. Namun, sejak umur 8 tahun dia sudah yatim-piatu. Dia pun dirawat kakek-neneknya yang miskin dan harus jualan kacang dan apel di stasiun maupun di stadion saat pertandingan bola digelar.
Suatu hari, dia datang ke pertandingan Orlando Pirates, klub besar di Afsel. Karena ada satu pemain yang absen, tiba-tiba dia diminta menggantikannya. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dan menunjukkan kemampuan yang dia asah di jalan-jalan.
Penonton langsung kaget. Dia bermain luar biasa dan membuat permainan tim amat hidup. Sejak itu, dia dijuluki "Jomo" yang artinya panah membara. Namun, seiring prestasinya yang makin besar, dia mendapat julukan baru: "Pangeran Hitam".
Sayang, sejak 1976 Afsel diisolasi sepak bola internasional dan FIFA, karena sistem apartheid di negara itu. Sehingga, kemampuan besar Sono tak dikenal di luar negeri. Jika tidak, dia mungkin akan lebih besar.
"Tapi, dia beruntung punya kesempatan bermain di Amerika Serikat, membela Colorado Caribous dan New York Cosmos. Di Cosmos, dia bermain bersama Pele. Sehingga, masyarakat internasional bisa menyaksikan kehebatannya," kata seorang penulis sepak bola Afsel, Mo Allie.
Sayangnya, sepak bola AS tidak semegah Eropa. Sehingga, nama Sono tetap saja kurang besar secara internasional. Meski begitu, dia punya nama terbesar di Afsel. Apalagi, selepas dari AS pada 1982 dia mendirikan klub Jomo Cosmos yang kini menjadi salah satu tim elit di Liga Utama Afsel.
Selain itu, dia juga menjaring bakat-bakat di seluruh negeri, kemudian dikembangkan. Banyak bakat yang akhirnya besar seperti Philemon Masinga, Helman Mkhalele, Sizwe Motaung and Mark Fish. Mereka menjadi tulang punggung Afsel saat menjuarai Piala Afrika 1996.
"Jika ditanya siapa pemain terbesar Afsel, pasti jawabnya Jomo Sono. Banyak orang yang mengerti sejarah dan cerita Jomo Sono. Tapi, kebanyakan mereka belum pernah melihat permainannya," kata Allie. (*)


