


PARIS, KOMPAS.com — Menteri Kesehatan dan Olahraga Perancis Roselyn Bachelot menilai, pelatih tim nasional Perancis, Raymond Domenech, tak becus bekerja dan membuat Perancis tampil seperti orang sesak napas selama kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Menurutnya, seandainya Perancis tampil tajam dan meyakinkan, Perancis tak perlu memanfaatkan kelemahan wasit untuk bisa lolos.
Kasus handsball Henry terjadi pada duel leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia, Rabu (18/11). Saat itu, Henry mengontrol bola dengan tangan sebelum memberi assist kepada William Gallas. Berkat handsball itu, Perancis bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sehingga berhak lolos dengan agregat 2-1.
Bachelot menjelaskan, akar permasalahan sebetulnya ada pada Domenech. Ia tak mampu memanfaatkan potensi pemain secara optimal. Padahal, seandainya Perancis tampil bagus, tidak kebobolan lebih dulu, dan bisa mencetak dua atau tiga gol, Irlandia mungkin tak bisa mencetak gol. Selain itu, handsball Henry tidak akan berpolemik karena Perancis menang meyakinkan.
"Kami memiliki tim Perancis yang sangat sesak napas, yang bermain imbang karena kesalahan wasit. Saya sangat ingin mengatakan kepadanya, 'Raymond, Anda harus bergantung kepada diri Anda sendiri dan pemain Anda karena kita, Perancis, adalah yang paling khawatir dan sedih'." katanya
Menambahkan itu, politikus Perancis, Philippe de Villiers, memberikan komentar lebih pedas kepada Domenech. Menurutnya, akibat ketidakmampuan Domenech, Perancis kehilangan harga diri seumur hidup.
"Raymond Domenech harus menyampaikan penyesalan ke muka publik dan membuktikan harga diri (dengan minta maaf) kepada Irlandia. Moral dari pertandingan (sepak bola) ini adalah Anda bisa curang selama Anda tidak ketahuan. Tim Perancis akan diberi cap sebagai tim curang selama bertahun-tahun," ungkapnya.
Menanggapi kecaman terhadap dirinya, Domenech mengaku tak mengerti kenapa ia dan pasukannya digambarkan sebagai pihak bersalah. Menurutnya, kesalahan seharusnya ada di tangan wasit.
"Saya tidak mengerti kenapa kami menjadi gambaran pihak bersalah. Saya tidak melihat (handsball) saat itu. Setelah saya lihat (rekaman), saya baru melihat bahwa itu kesalahan wasit. Bagi saya, ini adalah permainan dan bukan kecurangan. Saya tidak mengerti, kenapa kami harus minta maaf," ulasnya.
"Saya tidak keberatan orang menuntut Thierry mengakui kesalahan. Namun, itu seharusnya berlaku sama untuk seluruh dunia. Kami tak akan melakukan (bunuh diri) karena wasit membuat kesalahan," ungkapnya.
Sekadar menyegarkan ingatan, dalam sebuah pertandingan antara Liverpool versus Arsenal pada akhir tahun 1990-an, wasit memberikan penalti kepada Liverpool setelah Robbie Fowler dilanggar kiper David Seaman. Saat itu, kepada wasit, Fowler mengatakan bahwa Seaman tidak melanggarnya dan ia tidak pantas atas penalti itu.
Namun, wasit ngotot memberi hadiah penalti. Fowler, yang kemudian mengeksekusi, melakukan tembakan sedemikian rupa sehingga Seaman bisa dengan mudah menangkap bola itu. (GUA)


