


LONDON, KOMPAS.com - Perusahaan investasi Saudi Arabia, F6 siap membeli seratus persen saham Liverpool. Namun, mereka juga siap membatalkan rencana pembelian, bila Liverpool dijual dalam keadaan masih berutang besar. F6 menuntut pemilik klub, George Gillet untuk mereduksi nilai utang Liverpool sebelum bertransaksi dengan pemilik F6, Pangeran Faisal bin Fahd bin Abdullah al-Saud.
Bulan lalu, Faisal mengakui adanya rencana dan pembicaraan soal kemungkinan membeli Liverpool. Kepada sebuah media Saudi Arabia, Faisal mengatakan siap menggelontorkan uang 200-350 juta poundsterling untuk membali 25-50 persen saham Liverpool. Sekadar catatan, Direktur Manajerial F6, Gassim Hamidaddin mengatakan, prediksi harga dari Faisal itu kurang akurat.
Sayangnya, negosiasi tersendat oleh konflik antara Gillet dan pemilik lainnya, Tom Hicks (masing-masing memiliki 50 persen saham). Meski Liverpool terbebani utang sekitar 245 juta poundsterling, Hicks masih ngotot ingin berkuasa di Anfield. Sebaliknya, Gillet sudah siap menjual semua sahamnya kepada Faisal. Ini sebabnya, mengapa sejauh ini, Faisal hanya menegosiasikan soal kemungkinan pembelian saham kepada Gillet. Padahal, selama Hicks bersikap keras kepala, Faisal hanya bisa memiliki maksimal 50 persen saham Liverpool.
Namun, menurut Direktur Investasi Strategis F6, Barry Didato, Faisal tidak akan campur tangan soal urusan "rumah tangga" Gillet dan Hicks. Bagi F6, yang penting, Liverpool mereduksi beban utangnya sampai batas rasional manajerial sebelum melakukan transaksi dengan Faisal. Menurutnya, Faisal bukanlah dermawan yang membeli Liverpool untuk sekadar melunasi utang.
"Kepemilikan saham Yang Mulia bisa mulai nol sampai seratus persen. Ia (Faisal) tak bisa dilihat sebagai solusi utang atau masalah relasi antara pemilik Liverpool (Hicks dan Gillet). Yang Mulia tidak akan terlibat (dalam masalah Hicks dan Gillet) karena ia bukan penasihat pernikahan," ujarnya.
"Utang itu harus berada di level yang bisa ditangani sebelum Pangeran Faisal berinvestasi dan level (utang) saat ini sangat tinggi. Ia (Faisal) tak bisa dilihat sebagai seseorang yang akan menyeimbangkan pembukuan," lanjutnya.
Pernyataan itu berkaitan dengan pemberitaan media Inggris mengenai rencana Gillet menemui Faisal pekan depan. Dengan pernyataan itu, Didato ingin, Gillet sudah menyelesaikan semuanya, terutama soal reduksi utang, sebelum bicara dengan Faisal. (ESPN)

