Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Lampard: Sanksi FIFA Bikin Chelsea Solid
Selasa, 08 September 2009 | 08:02 WIB
|
Share:
AFP/CHRIS RATCLIFFE
Frank Lampard (kanan) dan John Terry memperhatikan sesi latihan di Stamford Bridge, London.

TERKAIT

LONDON, KOMPAS.com — Gelandang Chelsea, Frank Lampard, sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman hukuman FIFA untuk "The Blues". Menurutnya, larangan transfer selama 16 bulan itu justru membuat timnya bersatu dan kian solid.

Chelsea akan menghadapi hukuman itu terkait pelanggaran kontrak dalam transfer Gale Kakuta dari Lens. Saat ini "The Pensioners" sedang berusaha mengajukan banding kepada Pengadilan Arbitrase Olahraga untuk membatalkan sanksi itu. Jika mereka gagal maka Chelsea harus siap-siap membina pemainnya hingga Januari 2011.

Bagi Lampard, hukuman itu justru ada nilai positifnya. Larangan itu justru akan menumbuhkan motivasi John Terry dkk untuk bersatu membangun kekuatan tim.

"Banyak hal terjadi padaku dalam karierku bersama Inggris dan Chelsea. Kapan pun (karier) itu menemui jalan buntu atau alasan lain, itu membawa kebersamaan dan dapat menjadi suatu hal positif," kata pemain 31 tahun tersebut.

"Anda tak bisa membiarkannya menjadi suatu hal yang negatif. Itu di luar kendali pemain, jadi yang dapat kami lakukan sekarang ini adalah membuatnya menjadi positif," tegasnya.

Lampard juga menolak anggapan yang menyebutkan bahwa Chelsea gagal membina pemain-pemain muda mereka sendiri sehingga terpaksa mencari pemain berbakat dari luar. Memang ada banyak pemain asli Inggris yang memiliki homegrown di Chelsea, jumlahnya sekitar 70 persen. Namun, menurut Lampard, "The Blues" masih perlu waktu untuk mendidik mereka menjadi lebih baik.

"Banyak anak muda Inggris di akademi kami dan itu bagus. Aku berhubungan dengan mereka dan berusaha membantu, tapi tidak mudah di Chelsea," kata pemain pindahan dari West Ham United itu.

"Aku pernah menjalaninya dengan mudah. Aku bermain tim utama (West Ham) pada usia 17, 18 tahun tapi kini belum ada yang seperti itu di Chelsea," tambahnya.

"Pemain muda harus tetap bersemangat selama periode yang lebih lama dan lebih bekerja keras untuk menjadi yang mereka mau. Akademi modern melihat keluar dan mencari pemain mancanegara dan itu cara yang benar karena menguntungkan klub. Ketika pemain-pemain muda datang, penggemar lebih suka pemain lokal karena mereka dapat berhubungan dengannya. Namun, mereka tidak terlalu memedulikan asal pemain selama mereka bermain baik," ungkap Lampard.

Ketua Eksekutif "The Blues" Peter Kenyon pun pernah merasa iri dengan prestasi Manchester United mengelola akademi sepak bola mereka. Ketika Luiz Felipe Scolari dipecat, Kenyon sempat mengkritik pemilik klub Roman Abramovich yang dianggapnya lebih suka menempuh jalan pintas untuk meraih kesuksesan hingga mengabaikan pengembangan berkelanjutan di tim tersebut.

Belum lama ini Chelsea malah mengirim pemain muda Michael Mancienne ke Wolverhampton Wanderers sebagai pemain pinjaman. Itu menunjukkan bahwa "The Blues" memang sedang paceklik bibit muda berbakat dari rumah sendiri. (GRD)