Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Ancelotti: Butuh Kesabaran untuk Jadi Juara
Minggu, 02 Agustus 2009 | 07:46 WIB
|
Share:

LONDON, KOMPAS.com — Pelatih Chelsea Carlo Ancelotti menegaskan bahwa untuk menjadi juara, sebuah tim tidak boleh terburu-buru. Apa pun hasilnya, ia ingin bersabar karena jalan menuju sukses selalu mengalami proses.

Ancelotti mengalami sendiri bagaimana seorang pelatih harus ulet membangun kekuatan tim. Ketika ia ditunjuk sebagai pelatih AC Milan pada akhir 2001, "I Rossoneri" tidak langsung juara musim itu. Namun, setahun kemudian, Milan meraih sukses secara bertahap. Diawali dengan juara Coppa Italia 2003, juara Serie A 2004, Ancelotti meraih puncak kesuksesan dengan mempersembahkan gelar Liga Champions pada 2007, juara Piala Super UEFA dan juara dunia antarklub pada tahun yang sama.

Don Carletto, demikian ia dipanggil, mengungkapkan bahwa ia harus bersabar untuk menggapai semua prestasi itu. Kesabaran seperti itu sudah mendarah daging dalam hidupnya. Sejak kecil ia membantu ayahnya memerah sapi dan memproduksi keju Parmesan dan menebang pohon di sebuah peternakan. Untuk membuat keju yang baik, katanya, memerlukan waktu hingga satu tahun. "Peternakan mengajarkan saya sebuah pelajaran besar: menunggu dan bersabar," ungkapnya.

Prinsip itulah yang hendak ia terapkan dalam sepak bola di tim mana pun yang ia latih. Jika di Milan ia dapat menjalankannya dengan baik, di Chelsea pun ia harap bisa demikian.

"Saya tidak pernah suka mengatakan saya ingin menang, tapi saya punya indera bagus soal itu," katanya seperti dikutip The Times.

"Anda menanam hari ini dan memetik hasilnya satu atau dua tahun kemudian. Inilah filosofi saya dalam sepak bola, itulah gaya saya, cara hidup saya. Anda tidak boleh cemas soal hasilnya, jika Anda bekerja baik, (gelar) itu akan datang," ungkap penggemar grup musik ABBA dan Queen itu.

Pernyataan Ancelotti seolah ingin mengetuk hati pemilik "The Blues", Roman Abramovich, tentang bagaimana perlunya menantikan buah manis sebuah proses pembentukan karakter bermain bola. Selama ini Abramovich sering mendapat kritik karena ia gampang mengganti pelatih jika timnya gagal meraih kesuksesan. Pelatih yang menjadi "korban" terakhirnya adalah Luiz Felipe Scolari, yang mengantar Brasil juara dunia 2002. Pelatih berjuluk "The Big Phil" itu hanya tujuh bulan menangani "The Pensioners" sebelum digantikan oleh Guus Hiddink.