Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Madrid, Ronaldo, dan Impian Benzema
Sabtu, 04 Juli 2009 | 04:26 WIB
|
Share:

LYON, KOMPAS.com - Karim Benzema sudah resmi menjadi pemain Real Madrid musim depan. Inilah klub yang ia dambakan sejak kecil. Kecintaannya kepada "Los Blancos" makin lengkap karena klub itu pernah memiliki pemain idolanya, Ronaldo.

Kepada OLtv, stasiun televisi milik Olympique Lyon, pemain berjuluk "Big Benz" itu membeberkan suka dukanya bersama klub tersebut. Berikut beberapa kutipan wawancara tersebut seperti dikutip Goal.com:

T: Karim, Anda mengakhiri karier di OL. Ingatkah Anda ketika pertama kali datang ke sini, Anda masih anak-anak sembilan tahun?
J: Jujur, ya. Aku ingat sesi pertamaku di lapangan nomor 10 di CFA (skuad amatir). Itu bersebelahan dengan markas CFA. Di sana ada pemain lain seperti Remy Riou dan Sandy Paillot, yang kini menjadi pemain profesional.

T: Ceritakan soal kontrak profesional pertama Anda!
J: Aku mengikuti kejuaraan Eropa dan sebelumnya aku tidak punya kontrak. Kami memenangi turnamen, dan aku satu-satunya pemain Perancis yang tak punya kontrak. Klub segera memanggilku untuk kontrak profesional. Ada klub lain yang tertarik kepadaku tapi aku sudah berlatih di Lyon, jadi aku tak ingin menjadi profesional di tempat lain. Ketika aku menekennya, mimpi pun jadi kenyataan.

T: Siapa yang yang melatih Anda pertama kali?
J: Aku mulai dengan Paul Le Guen. Dia bilang padaku untuk merangkap posisi jika dia kehilangan bek kiri atau gelandang. Sejak saat itu, pikiranku mulai jelas bahwa aku akan menjadi pebola profesional dan aku mulai semakin cepat mencapai hal itu,

T: Kemudian, muncullah pidato yang terkenal itu?
J: Betul, lawan Metz. Malam sebelum laga, Lamine Diatta, Sylvain Wiltord, Eric Abidal, Sydney Govou, semua berada di ruanganku. Aku sangat malu. Mereka bilang, "Kamu harus membuat kata sambutan," dan kubilang, "Ya, sangat bagus, tinggalkan aku!" Namun, setelah kami makan, mereka bersulang. Mukaku merah, tak bisa bicara. Aku berdiri dan mencoba bicara. Mereka menertawakanku, tapi bertepuk tangan untukku. Mereka menari di meja. Sungguh menyenangkan.

T: Setelah itu, Anda bersama Gerard Houllier (2005-2007). Anda mendapatkan pengalaman?
J: Ya, Gerard Houllier pelatih hebat. Dia membuatku dewasa. Dia memberiku kesempatan dalam laga besar, yang membangkitkan rasa percaya diriku. Itu membuka mataku tentang apa yang bisa kuperbuat. Melalui dia, aku bisa membangun kepercayaan diriku.

T: Anda ingat yang ia katakan kepada Anda?
J: Dia bilang padaku untuk bermain, membuat kemajuan, dan menunggu. Waktu itu aku masih muda. Aku ingin bermain dan itu sebabnya aku bilang: "Aku akan tunggu. Aku mendengarkan dan hari ini aku senang."

T: Anda selalu mengidolakan Ronaldo...
J: Dia pemain terhebat dalam sejarah sepak bola. Bagiku, dia orang yang memiliki setiap atribut yang dimiliki pemain impian.

T: Anda berpikir suatu saat bakal mendapat Ballon d'Or. Pernahkah terlintas demikian?
J: Ya, aku memikirkannya. Aku harus tetap menjalani musim dengan baik dengan banyak pertandingan besar entah bersama klub atau timnas Perancis. Bagiku, inilah yang harus menjadi tujuan setiap pemain, meskipu ada penghargaan individual, yang pertama jadi bahan pemikiran adalah kolektivitas.

Namun, jika Anda ingin menjadi seseorang di sepak bola, dan dikenal, Anda perlu memenangi Ballon d'Or setidaknya sekali saja. Itu selalu menjadi impianku. Sejauh ini hal tersebut masih jadi impianku, tapi aku harus tetap berusaha mewujudkannya.

T: Terakhir kali di ruang ganti Lyon, apa artinya bagi Anda?
J: Itu benar-benar membuat hatiku bergolak. Aku sedih dan senang pada saat bersamaan. Aku senang karena aku akan bergabung dengan klub besar, salah satu yang terbesar di dunia. Akan tetapi, aku sedih karena aku meninggalkan tempatku berlatih, teman-temanku, orang-orang yang tumbuh bersamaku di Lyon. Aku mencintai itu semua, tapi aku akan selalu mendukung Lyon karena klub ini telah membuatku tumbuh. Aku berutang semuanya kepada mereka.

T: Bermain untuk Real Madrid, apakah impian Anda jadi kenyataan?
J: Itu segalanya yang kuinginkan ketika aku remaja. Semua orang di tempatku asalku mendukung Madrid, itu benar adanya. Ketika aku 16-18 tahun, tim itu menjadi impianku. Kini dalam beberapa pekan lagi aku akan berada di sana, aku sangat bahagia.

T: Bagaimana rasanya bermain bersama Cristiano Ronaldo dan Kaka?
J: Mereka pemain bintang, tapi kuharap di sana juga ada Ronaldo, pemain nomor 9 sesungguhnya. Tapi, ya, memang benar bahwa dua pemain itu hebat, pemenang Ballon d'Or. Aku harus belajar di samping mereka.

T: Apa yang Anda dapatkan selama bertahun-tahun di Lyon?
J: Aku tak bisa melupakan musim di mana kami meraih dua gelar. Itu musim terbaik bersama skuad hebat. Kami semestinya bisa lebih baik di Liga Champions. Menyesal? Gagal meraih gelar ganda musim ini dan leg pertama lawan Barcelona. Namun, lebih dari itu, aku tak akan pernah melupakan semua orang dari klub ini, dari era Poussin hingga jadi pemian profesional sekarang ini.

T: Setelah Anda menjejakkan kaki di Stade Gerland, bagaimana perasaan Anda sekarang?
J: Aku merasakan banyak hal. Ada hal yang menusuk hatiku, aku mencetak banyak gol di sini, banyak pertandingan besar. Di sinilah aku memulai segalanya. Kuharap ini bukan terakhir kalinya.

T: Dapatkah Anda sebutkan gol-gol terbaik Anda di sini?
J: Aku ingat, salah satunya saat melawan Lens, ketika aku menggiring bola dari pinggir. Gol pertamaku di liga lawan Auxerre, tendangan bebas lawan Caen. Kemudian gol pertamaku lawan Rosenborg di Liga Champions.

T: Bernard Lacombe (1996-2000), apa yang bisa Anda ceritakan soal dia?
J: Aku tak bisa bicara banyak. Dia orang terpenting dalam karier sepak bolaku. Kita semua tahu berapa banyak gol yang dia ciptakan di sini. Dia merangkulku. Aku dan keluargaku berutang budi atas apa yang ia kerjakan. Aku akan terus berhubungan dengannya karena dia orang yang sangat kuhargai. Aku senang pernah bersamanya.

T: Dia memanggil Anda "The Kid"
J: Ya, setiap saat. Bahkan jika ada umpan buruk, dia bilang, "Hei, anak muda, apa yang kamu lakukan?" Ketika dia berkomentar pada satu pertandingan, itu karena dia melihatnya seperti dia sedang bermain. Yang kusuka darinya adalah dia selalu jujur kepadaku. Dia mengutarakan kesalahanku dan kemampuanku. Itu sebabnya aku sangat berterima kasih kepadanya.

T: Semua orang yang datang Stade Gerland sedih melihat Anda pergi. Apa yang ingin Anda katakan kepada mereka?
J: Aku menjalani masa hebat di sini. Tidak mudah menjadi bagian dalam hati penggemar tapi saya melakukannya. Hari ini, aku berterima kasih kepada mereka karena mereka aku membidik para bintang. Ketika suporter mendukung Anda di stadion, itu memberikan dorongan lebih besar. Virage Nord, Virage Sud, Jean Jaures, Jean Bouin, semuanya bersorak dan bertepuk tangan kepadaku. Aku berterima kaish kepada mereka.

Aku berharap kembali, jika mungkin, aku akan mengakhiri karierku di sini karena aku berutang segalanya kepada klub. Seperti sudah kubilang, aku senang dan sedih harus meninggalkan mereka. Aku meninggalkan keluarga. Tentu aku masih mendukung klub dan kuharap kami memenangi liga lagi dan membawa banyak gelar.