


JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Pelatih Brasil Carlos Dunga tidak akan segan-segan mencoret pemain yang tidak mau berkorban demi tim. Brasil bukan sekumpulan pemain tenar, tapi pemain yang mau bekerja keras sebagai grup.
Sebelum ditunjuk sebagai pelatih tim "Samba" pada 2006, Dunga sama sekali belum pernah memiliki pengalaman sebagai pelatih. Pengalamannya dengan bola lebih banyak dijalaninya sebagai pemain, salah satunya menghasilkan gelar juara dunia 1994 dan Piala Konfederasi 1997.
Karena kurangnya pengalaman sebagai pelatih itu, banyak orang meragukan kemampuannya menangani tim peraih juara dunia lima kali tersebut. Di tangan Dunga, harga diri Brasil dipertaruhkan. Dalam usia 42 tahun waktu itu, Dunga mencoba hal baru yang dianggap tak lazim di negaranya. Dunga tak malu mencari pemain yang berlaga di klub-klub medioker di seantero dunia dan tak ragu mencoret pemain bintang sekalipun. Prinsipnya jelas, Brasil dibangun oleh kebersamaan tim, bukan oleh individu.
"Selalu ada pemain yang mengorbankan dirinya untuk tim. Jika tidak, Anda tidak akan bisa sukses,” kata pelatih yang pernah bermain di Fiorentina dan Stuttgart itu.
"Tentu, dunia akan membicarakan pemain yang bisa menjadi headline (di media). Anda punya pemain pengisi headline dan pemain yang ada di lapangan. Seorang pelatih mungkin dalam masalah jika dia hanya berkonsentrasi pada pemain pengisi headline," tegasnya.
Maka tak heran jika nama-nama besar seperti Ronaldinho dan Ronaldo pun tak masuk dalam skuad yang dibawanya dalam Piala Konfederasi 2009 kali ini. Padahal, tak sedikit orang yang memintanya agar mau mempertimbangkan dua mantan pemain terbaik dunia itu.
Jika pada akhirnya Dunga ngotot merumahkan mereka dan mantan striker Inter Milan Adriano, keputusan itu toh tetap mendatangkan hal positif. Brasil kini menjadi favorit juara Piala Konfederasi setelah Lucio cs berhasil melangkah ke final. Musuh yang akan dihadapi mereka adalah lawan yang mereka kalahkan di fase grup, Amerika Serikat.
Laga final memang belum digelar dan hasilnya masih belum dapat ketahuan. AS bisa saja membuat kejutan kedua seperti yang mereka lakukan saat menaklukan favorit juara, Spanyol. Namun, prestasi Dunga bersama "Selecao" yang saat ini menduduki peringkat teratas klasemen Piala Dunia 2010 zona Amerika Selatan patut mendapat kredit tersendiri.
Kredit positif juga patut diberikan kepada Kaka, Robinho, dan kelompoknya sebagai kumpulan pemain bintang yang menanggalkan keegoannya sebagai pemain bintang dan menyatu sebagai tim. (AP, NYT)


