Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Dipecat, Wasit Gay Gugat Federasi Sepak Bola Turki
Kamis, 25 Juni 2009 | 18:23 WIB
|
Share:
AFP/BULENT KILIC
Halil Ibrahim Dincdag

ISTANBUL, KOMPAS.com - Seorang wasit sepak bola di Turki menggugat federasi sepak bola setempat (TFF) yang membekukan izinnya sebagai pengadil di lapangan karena ia seorang gay.

Halil Ibrahim Dincdag, wasit 33 tahun asal Trabzon, sebetulnya telah menjalani profesinya sebagai wasit selama 13 tahun. Mei lalu izinnya tak diperbarui lagi oleh TFF. Dua hari setelah ia mengajukan banding tentang pemecatannya itu, kabar itu langsung merebak di media setempat. Akibatnya, sebuah stasiun radio tempatnya bekerja pun turut memecatnya.

Dincdag pun terpaksa mengungsi bersama keluarganya ke Istanbul untuk menghindari pers yang memburunya. Dalam pengasingan itu, ia merasakan hidupnya hancur lebur. Sejumlah dukungan mengalir untuknya, tapi tak sedikit pula yang menentangnya.

"Hari di mana pers mulai menulis tentang saya, saya langsung koma, dan hari ketika saya muncul di TV, saya sekarat," kata Dincdag di kantor pengacaranya seperti dikutip The Independent. "Tiga puluh tiga tahun hidup saya lenyap. Setelah itu, saya mencoba untuk bangkit kembali."

Karena masalah tersebut, Dincdag bersikeras akan mengajukan TFF ke pengadilan. Tekadnya semakin bulat setelah ia mendapat dukungan dari sebagian besar wasit di Trabzon. Kira-kira 3.000 orang ikut menandatangani petisi yang mendukungnya mengajukan gugatan. Kasus ini bahkan bakal diajukan ke parlemen Turki dan Eropa.

"Penonton selalu meneriaki saya 'gay' setiap kali saya membuat keputusan yang tidak memuaskan. Mereka pikir saya seekor semut yang bisa mereka tindas, mereka pikir saya bakal lari dan sembunyi. Mereka telah menghancurkan hidup saya dan saya akan melawan mereka mati-matian," tegas Dincdag.

Wakil Presiden TFF Lutfi Aribogan membantah bahwa penghentian izin Dincdag itu merupakan akibat dari perbedaan orientasi seksualitas Dincdag. Aribogan menegaskan, pemecatan itu tidak berhubungan dengan orientasi seksual sang wasit, melainkan karena kurangnya talenta Dincdag dalam memimpin pertandingan. Kepala Dewan Perwasitan Turki menegaskan, pihaknya masih memberi kesempatan kepada Dincdag untuk bergabung dengan komunitas wasit meski tidak ada jaminan namanya bakal diakui di federasi.

Turki dengan 99 persen penduduk muslim merupakan negara sekuler yang tak melarang homoseksualitas. Namun, pro dan kontra atas masalah ini masih terus bermunculan di negara tersebut dan menjadi salah satu penghambat Turki masuk ke dalam Uni Eropa.