Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Barcelona Sangsikan Rencana Bisnis Madrid
Jumat, 12 Juni 2009 | 20:45 WIB
|
Share:
AFP/PEDRO ARMESTRE
Seorang pria berdiri di depan pintu Stadion Santiago Bernabeu di Madrid. Real Madrid berencana mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain top kelas dunia.

TERKAIT

BARCELONA, KOMPAS.com - Setelah mendapat tawaran senilai 94 juta euro dari Real Madrid, Cristiano Ronaldo dipastikan akan menerima bayaran terbesar di jagat olahraga. Sejumlah pertanyaan pun muncul, dari mana Madrid mendapat dana sebanyak itu?

Jumlah uang yang ditawarkan Madrid kepada Manchester United itu menjadi tawaran tertinggi dalam cabang sepak bola saat ini. Sebelumnya, "El Real" di bawah pimpinan Presiden Florentino Perez juga merogoh kocek hingga 65 juta euro untuk membeli gelandang AC Milan, Ricardo Kaka. Jadi, Perez akan mengeluarkan uang hampir 160 juta euro atau hampir Rp 2,3 triliun untuk kedua pemain itu.

Perez yang dikenal senang mendatangkan pemain-pemain mahal dunia sepertinya tidak takut bakal mengalami kebangkrutan di tengah krisis finansial seperti sekarang ini. Menurutnya, dana yang ia keluarkan untuk membeli kedua pemain itu akan tertutup kembali oleh penjualan jersey Madrid selama musim depan.

Ini membuat sejumlah pihak bertanya-tanya, akankah Madrid bakal mewujudkan hal itu? Barcelona sebagai kompetitor raksasa Spanyol tersebut pun tak habis pikir dengan rencana jor-joran dari "Los Galacticos" tersebut.

“Saya tidak tahu dari mana uang sebanyak yang direncanakan Florentino Perez untuk berbelanja pemain, dia bilang akan balik modal dengan menjual kaus tapi itu artinya Anda harus menjual 30 juta kaus,” kata Direktur Barcelona, Xavier Sala i Martin.

“Kami tidak akan pernah membayar seorang pemain dengan 65 juta euro karena dengan uang sebanyak itu Anda bisa membeli seluruh pemain yang bisa menjuarai Liga Champions di Roma," tambahnya.

Belum habis pertanyaan Martin itu, ia juga heran mengenai sumber dana yang digunakan Madrid. Menurutnya, dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang ini, bank pun akan enggan memberikan bantuan kredit sebanyak itu kepada "Los Merengues".

“Seseorang memberinya uang dan ada baiknya mengetahui siapa. Bagaimana sebuah tim sepak bola memiliki uang sebanyak itu ketika Anda terlibat dalam iklim ekonomi saat ini dan larangan kredit yang diterapkan oleh bank," sambung Martin.

Jika Barcelona masih penasaran dengan keputusan rivalnya itu, hal sebaliknya diungkapkan oleh petenis Novak Djokovic. Pemain asal Serbia itu menilai bahwa tidak etis membicarakan jumlah uang dalam situasi resesi seperti sekarang ini.

“Anda bisa menilainya dari sisi sang atlet atau orang yang menerima bayaran 2.000 euro per bulan,” kata Djokovic kepada Reuters di sela-sela turnamen tenis di Halle, Jerman. "Dalam situasi krisis seperti ini, sebaiknya jangan tunjukkan berapa banyak yang akan ditawarkan (oleh klub). Itu akan segera menimbulkan reaksi dari kehidupan sosial dengan sangat cepat, secara psikologis. Itu jumlah yang luar biasa besar."

“Ada cara lain untuk melakukannya,” sarannya. “Aku tidak bilang dia layak atau tidak layak menerimanya tapi harganya jangan bocor ke media.”

Sebagai petenis peringkat empat dunia, Djokovic "hanya" mendapat hadiah uang 12 juta dollar AS atau kira-kira Rp 121 miliar atas penampilannya sebagai pemain profesional sejak 2003.