Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Ancelotti: Capello Suka Cemberuti Pemain
Sabtu, 06 Juni 2009 | 03:08 WIB
|
Share:
AFP/GLYN KIRK
Fabio Capello dengan wajah cemberut. Cara ini tidak disukai oleh Carlo Ancelotti.

TERKAIT

LONDON, KOMPAS.com - Pelatih baru Chelsea, Carlo Ancelotti, mengkritik cara kerja pelatih Inggris, Fabio Capello. Menurutnya, Capello suka pasang tampang cemberut dan buruk dalam hal komunikasi dengan pemain.

Melalui buku otobiografinya, Preferisco La Coppa, Ancelotti mengenang kisah perjalanannya bersama Capello di AC Milan. Ancelotti yang bergabung ke Milan sejak 1987 selalu mendapat tempat terhormat ketika tim itu masih ditangani oleh Arrigo Sacchi.

Pada 1991, datanglah Capello sebagai pelatih "I Rossoneri". Situasi berubah cepat, Ancelotti tak lagi mengisi formasi reguler di tim tersebut. Karena perlakuan Capello itu, Ancelotti langsung mengambil keputusan gantung sepatu pada 1992 dalam usia 32 tahun.

"Musim pertama tanpa Sacchi menjadi musim terakhir saya di Milan. Pada awalnya saya tidak bisa menerima sebagai pemain cadangan, maka saya harus memutuskannya," ungkap Ancelotti. "Ketika saya memutuskan bahwa ini menjadi musim terakhir saya, saya tidak pernah memikirkannya dua kali. Capello ingin saya berubah pikiran tapi tidak mungkin saya melakukannya."

Meski mengakui bahwa Capello sangat jago membaca permainan, Ancelotti menyayangkan cara Capello melatih para pemainnya. Menurutnya, Capello tidak pernah menjalin komunikasi dengan pemain termasuk soal teknik pertandingan.

"Capello brilian membaca pertandingan dan itu menjadi kemampuan terbaiknya. Dari sisi ini, angkat topi untuknya," tambah Ancelotti.

"Dari sisi humanisme, situasinya berubah. Dia bermuka masam, dia tidak berdialog dengan pemain, lebih dari itu dia tidak suka bicara soal hal teknis. Diskusi tentang hal-hal penting dengannya tidak pernah ada, tidak pernah terjadi."

Sampai kini citra sebagai pelatih yang kaku dan tidak kenal kompromi masih lekat pada diri Capello. Ia dikenal sangat ketat memberlakukan jam latihan dan jarang bicara dengan pemain Inggris. Meski demikian, para pemain justru menghormatinya sebagai pelatih yang sangat disiplin. (SKY)