Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Pemain PSIS Digaji Rp500 Ribu Per Partai
Minggu, 17 Mei 2009 | 20:26 WIB
|
Share:

SEMARANG, KOMPAS.com - Meskipun dibelit masalah finansial, PSIS Semarang memastikan diri tetap dibela 16 pemain seniornya hingga akhir musim kompetisi Indonesia Super League (ISL). Padahal, sebelumnya klub berjuluk Mahesa Jenar ini memutuskan untuk membubarkan diri karena tidak kuat membayar gaji pemain.

Manajer Operasional PSIS Semarang Ari Wibowo, Minggu (17/5), mengakui, terdapat 11 pemain lokal dan lima pemain asing yang masih membela PSIS hingga akhir musim kompetisi. Pemain lokal yang memastikan diri untuk bergabung lagi dengan PSIS merelakan pendapatannya terkena rasionalisasi.

"Ada pemain yang sebelumnya digaji Rp 8 juta per bulan, tetapi kemudian rela untuk digaji Rp 500.000 per pertandingan. Padahal, satu bulan ini hanya terdapat lima pertandingan," kata Ari, di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Menurut Ari, seluruh pemain lokal yang membela PSIS hingga akhir musim kompetisi siap digaji Rp 500.000 per pertandingan. Kondisi tersebut meringankan pihak manajemen dalam hal pengeluaran.

"Biasanya, manajeman mesti mengeluarkan biaya Rp 235 juta per bulan untuk gaji pemain, konsumsi, dan biaya operasional. Dan, pos pengeluaran terbesar ada pada gaji pemain," jelasnya.

Karena alasan itulah, pihak manajeman dan Ketua Umum PSIS Sukawi Sutarip memutuskan untuk membubarkan tim senior PSIS pada 5 Mei lalu. Namun, keinginan pemain lokal untuk tetap bermain dan merelakan pendapatannya terkena rasionalisasi membuat keputusan pembubaran itu dicabut.

Selain pemain lokal, Ari menambahkan, PSIS juga masih diperkuat lima pemain asingnya karena masih terikat kontrak hingga akhir musim kompetisi. "Pemain asing masih bertahan karena kontraknya tidak diputus. Manajemen tidak mau terkena hukuman FIFA karena memutus kontrak pemain asing yang belum habis masanya," ucap Ari.

Dari 28 pemain yang masuk dalam skuad untuk kompetisi ISL, PSIS tidak lagi diperkuat 12 pemainnya seperti Firman Basuki, Jimmy Mark, dan Bangun Permana akibat krisis finansial tersebut. Selain itu, klub kebanggaan masyarakat Semarang ini juga kehilangan pelatih Bambang Nurdiansyah yang kemudian digantikan oleh Ahmad Muhariyah.