


JAKARTA, KOMPAS.com- Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia/PSSI akan sulit ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraaan Piala Dunia 2022 apabila tim sepakbola nasionalnya tidak mampu memperbaiki mutu. Sebab, untuk ditunjuk sebagai penyelenggara Piala Dunia, PSSI juga harus memiliki tim sepakbola nasional yang tangguh dan masuk dalam elit sepakbola dunia.
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menegaskan hal itu, saat memberikan sambutan di acara pencanangan "Grassroot Sepakbola Indonesia 2022" di Lapangan ABC, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/4) sore tadi.
Dalam acara itu, hadir Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, dan pengurus PSSI lainnya.
"Hampir semua negara penyelenggara piala dunia menjalankan secara bersama dan paralel antara pembinaan dan kemampuan persepabola yang baik dan bermutu dengan peningkatan pembangunan infrastrurktu sepakbola. Tanpa itu, kita tidak akan dipilih. Apalagi, jika kita tidak masuk dalam elit sepakbola dunia," tandas Kalla.
Kalla kemudian berpesan, "Jangan hanya selalu yang diingat permainan Ramang (legendaris sepakbola Indonesia) yang bisa tampil di Olimpiade Melbourne. Akan tetapi, tunjukkan bukti dan kemampuan PSSI. Kalau PSSI bisa masuk Piala Dunia, berabad-abad Indonesia akan dikenang."
Oleh sebab itu, lanjut Kalla, pemerintah mendukung sepenuhnya rencana PSSI menyelenggarakan Piala Dunia 2022 mendatang. "Saya bangga arah yang dilakukan PSSI. Piala Dunia 13 tahun lagi, jangan hanya dilihat sisi tahun ini saja. Pada 13 tahun mendatang, Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. Jadi, rencana itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karena itu, harus didukung. Saya minta Menpora memasukkan dalam agenda olahraga kita rencana PSSI itu," pinta Kalla.
Tak pernah menang
Nurdin Halid mengakui, bertahun-tahun PSSI tidak bisa mengalahkan tim nasional Singapura dan Thailand, karena bakat besar yang dimiliki pemain Indonesia tidak ditopang pembinaan dan teknologi yang baik. Untuk itu, harus diubah sistem pembinaan dan teknologinya.
Acara pencanangan "bibit" pemain sepakbola masa datang ini benar-benar sekadar seremonial belaka mengingat eksibisi dua pertandingan siswa sekolah sepak bola yang meramaikan pencanangan hanya ditonton sekitar lima menit saja. Setelah Kalla pulang, Nurdin dan pengurus PSSI lainnya juga ikut pulang.

