


BUKAN tanpa modal jika Hoffenheim mampu mengentak Bundesliga dan sampai sempat memimpin klasemen. Klub yang tadinya dianggap antah-berantah karena dari desa kecil dan tak pernah terdengar namanya itu, kini menjadi buah bibir. Bahkan, Hoffenheim dinilai pelatih Bayern Muenchen, Juergen Klinsmann, punya peluang besar untuk juara.
Bukan tanpa alasan Klinsmann mengatakan hal itu. Hoffenheim memang tampil konsisten dan punya permainan yang sangat bagus, pun berbahaya. Bahkan, sampai pekan ke-11, Hoffenheim masih memimpin klasemen sementara Bundesliga 1.
Apa yang membuat klub kecil itu sukses dan melejit begitu cepat. Jawabannya ada pada pendukung modal utama, Dietmar Hopp.
Dia pengusaha sukses, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di Jerman. Dia juga pemilik perusahaan software besar di Jerman, Hopp. Dalam sepuluh terakhir ini, dia telah membangun klub tersebut dengan serius. Sebanyak 150 juta euro (sekitar Rp2,1 triliun) telah dia investasikan untuk Hoffenheim, terutama membangun stadion dan tim.
Tak hanya itu, dia juga merekrut pelatih berkualitas, Ralf Rangnick. Dia dianggap punya pengalaman besar, karena pernah membawa Schalke ke Liga Champions.
Selain itu, dia juga menyewa pemandu akat terbaik. Hasilnya, Hoffenheim mendapat banyak pemain berbakat, meski belum punya nama yang besar. Sebut saja Vedad Ibisevic yang sementara menjadi top skorer Bundesliga 1. Selain itu ada Chinedu Obasi, Welington, juga Demba Ba.
Hopp dan Rangnick mengambil kebijakan untuk membangun tim dengan pemain muda daripada pemain bintang. Mereka mampu membeli pemain ternama, tapi lebih memilih pemain muda berbakat. Sebab, mereka bisa dikembangkan bersama dalam tim dan akan punya masa yang panjang.
Apalagi, Hopp menekankan harmoni dalam tim. Kekompakan diutamakan demi menggalang persatuan semua elemen. Sehingga, mereka satu dalam tujuan dan perjuangan.
Kenapa Hopp bersedia membiayai Hoffenheim dengan dana sebanyak itu> Bukankah masih banyak klub besar yang bisa dia beli?
Oh, tak sesederhana itu. Ini masalah rasa, hati, dan fanatisme. Hopp orang Hoffenheim yang sangat mencintai kampungnya. Semasa muda, dia juga pernah bermain di Hoffenheim. Ikatan psikologis yang begitu kuat itulah yang mendorongnya untuk mengangkat Hoffenheim menjadi klub besar di Jerman, bahkan kalau bisa Eropa dan dunia.
Kerja keras dan pengorbanan besar itu akhirnya berbuah juga. Hoffenheim mampu memimpin klasemen dan bukan mustahil bisa juara. Jika ini terjadi, maka Hoffenheim akan semakin membuat fenomena dan sejarah besar dalam sejarah sepakbola.
Maju terus, Hoffenheim! (HPR)

