


LONDON, RABU - Inggris boleh bangga karena banyak orang menganggap liga sepak bola di negara tersebut merupakan liga terbaik saat ini. Namun, siapa sangka jika klub-klub di negara tersebut memiliki total utang lebih dari 50 triliun rupiah.
Ketua Federasi Sepak Bola Inggris (FA), Lord David Triesman mengatakan, saat ini kondisi klub-klub di negara kerajaan tersebut sangat mengkhawatirkan. Jumlah utang mereka lebih dari tiga miliar poundsterling. Empat klub papan atas: Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool dipercaya menanggung sepertiga dari jumlah tersebut.
"Perkiraan yang saya dapat kemarin menyebutkan utang sepak bola Ingris secara keseluruhan mungkin mencapai tiga juta poundsterling," kata Triesman ketika berbicara pada konferensi Pemimpin dalam Sepak Bola di Stamfod Bridge, Selasa (7/10) waktu setempat. "Satu hal yang pasti atas utang ini adalah bahwa utang itu harus dibayar atau harus ditata ulang."
Triesman menambahkan, jumlah ini dapat memengaruhi perkembangan Liga Inggris karena saat ini sedang ada masalah finansial di seluruh dunia. Utang-utang itu akan membuat klub yang bersangkutan mengalami kebangkrutan dini karena bakal ditinggalkan oleh pemilik klub.
"Utang ini sebagaimana kita tahu dimiliki oleh pemilik klub dari seluruh belahan bumi, juga oleh lembaga keuangan yang kini sedang mengalami masalah, sebagian oleh pemilik kaya yang tidak mau terus menerus memiliki klub dan sebagian dimiliki pemilik yang tidak sehat dan juga tak mau berada di dalamnya terus menerus," katanya.
Masalah bertambah rumit ketika FA kesulitan menemukan bagaimana cara melunasi utang-utang tersebut. "Transparansi menjadi sesuatu yang susah diketahui. Kami kini berada pada posisi di mana sangat sulit untuk melacaknya. Kondisi ini kurang jelas dan kami tidak tahu apakah kami dapat melacaknya, apakah utang ini ditanggung oleh orang yang berkemampuan finansial cukup baik atau tidak. Semakin banyak klub makin banyak masalah, sebagian di antaranya ditinggalkan pemiliknya begitu saja," lanjutnya.
Triesman juga memberikan komentar terhadap pernyataan Presiden FIFA Sepp Blatter tentang mudahnya membeli sebuah klub. Akibatnya, investor asing dengan mudah membeli klub Inggris dan dengan mudah pula meninggalkannya.
Menurut Triesman, suporter tidak dapat disalahkan jika mereka menginginkan klub favorit mereka dibeli oleh pengusaha kaya. Itu wajar karena dengan begitu klub mereka bisa mencari pemain yang lebih baik. Lagi pula, hal tersebut dapat mendatangkan kebanggaan dalam diri para penggemar.
Namun, Triesman juga menekankan perlunya uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon pemilik sebuah klub. Meski cara ini tidak menjamin kesuksesan, upaya ini dapat membantu agar sepak bola menjadi lebih baik.
"Uji kelayakan dan kepatutan tidak menjamin hasilnya menjadi sempurna. Cara ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena klub sepak bola bukan sebuah barang komoditas. Mereka adalah harapan suporter. Kita lupa bahwa hal itu (jual beli klub) berisiko," katanya. (AP)


