Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
EPL Makin Dikangkangi Orang Asing
Minggu, 07 September 2008 | 01:26 WIB
|
Share:
GETTY IMAGES
Manchester City bakal menjadi kekuatan baru di EPL, setelah dibeli perusahaan dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

TERKAIT

SEPAKBOLA Inggris memang semakin menarik bagi investasi bisnis. Dalam lima tahun terakhir, kekuatan bisnis asing semakin banyak yang terjun di sepakbola Inggris, terutama English Premier League, untuk menginvestasikan modalnya.

Para pemain asing pun banyak yang berdatangan. Bahkan, klub seperti Arsenal bisa menurunkan semua pemain asing dalam satu pertandingan. Klub lain juga makin didominasi pemain asing.

Terlepas dari itu, kepemilikan klub pun makin hari makin banyak yang berpindah tangan ke tangan asing. Bahkan, kecenderungannya akan semakin banyak klub yang dimiliki bisnis asing. Apalagi, setelah Manchester City pindah dari tangan asing ke tangan asing lainnya yang lebih menggairahkan. City yang tadinya dimiliki mantan perdana menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, sejak Minggu (31/8) berpindah ke Abu Dhabi United Group (ADUG). Sebuah konsorsium perusahaan asal Uni Emirat Arab.

Klub EPL mana saja yang sudah menjadi milik orang asing? Berikut daftarnya.

ASTON VILLA
Klub ini sekarang dimiliki pengusaha dari Amerika Serikat, Randy Lerner. Dia mengambil alih Villa pada September 2006 dengan nilai pembelian sebesar 62,6 juta pounds (sekitar Rp1,032 triliun).

Lerner kemudian mengangkat dirinya sebagai Ketua Aston Villa, menggantikan Doug Ellis yang akhirnya mundur setelah 38 tahun mengurusi klub itu.

CHELSEA
Chelsea menjadi klub yang berpindah tangan secara sensasional. Klub London itu dibeli pengusaha kaya dari Rusia, Roman Abramovich, pada July 2003. Saat itu, Abramovich membeli Chelsea dengan harga 60 juta pounds (sekitar Rp989,846 miliar).

Di tangan Abramovich, Chelsea langsung menjadi tim besar. Sejumlah pemain berkelas dunia langsung didatangkan, antara lain Frank Lampard, Michael Essien, Didier Drogba, Arjen Robben, Andriy Shevchenko dan sebagainya. Abramovich juga membangun fasilitas olahraga di klub itu.

FULHAM
Fulham tadinya klub kecil yang tak terlalu terkenal. Pada 1997, klub ini dibeli pengusaha keturunan Mesir, Mohamed Al
Fayed. Dia ayah Dodi Al Fayed yang kekasih Lady Diana, juga pemilik plaza besar di Inggris, Harrods.

Dia telah menginvestasikan dana sebanyak 30 juta pounds (sekitar Rp494,923 miliar untuk membangun tim Fulham. Hasilnya cukup memuaskan. Pada 2001, Fulham promosi ke Premier League dan bertahan hingga kini.

LIVERPOOL
Klub besar di Inggris ini pada 2005 kesulitan uang dan butuh banyak dana untuk membangun stadion baru. Pada 2006, klub ini langsung dibeli dua pengusaha Amerika Serikat, Tom Hicks dan George Gillet senilai 174 juta pounds (sekitar Rp2,870 triliun).

Namun, kedua pemilik itu semakin kehilangan popularitasnya di mata suporter Liverpool. Mereka dianggap kurang serius membangun klub dan terlalu pelit dalam membeli pemain. Bahkan, keduanya sempat berselisih.

Memasuki 2008, kedua pemilik itu mencoba menjual Liverpool kepada Dubai International Capital (DIC), sebuah perusahaan raksasa dari Uni Emirat Arab. Saat itu, Tom Hicks menolak dibeli semua saham mereka.

Negosiasi akhirnya menemui kegagalan pada Maret 2008, karena tak ada kesepakatan siapa yang akan menjalankan klub. Namun, setelah Manhcester City dibeli ADUG, muncul keinginan untuk menjual Liverpool ke DIC lagi. Dilaporkan, DIC siap membeli semua saham Liverpool dengan harga 400 juta pounds (sekitar Rp6,598 triliun). Menurut DIC, proses jual beli masih berlangsung.

MANCHESTER CITY
Klub ini dibeli mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, pada Juli 2007 dengan nilai 81 juta pounds (sekitar Rp1,336 triliun. Dia menjadi pengusaha Asia pertama yang membeli klub Inggris.

Di bawah Thaksin, klub ini sempat berprestasi lebih baik saat ditangani Sven Goran Eriksson. Namun, karena perbedaan pendapat, Juni lalu Eriksson mengundurkan diri dan posisinya diganti oleh Mark Hughes.

Persoalan semakin memanas, setelah Thaksin berurusan dengan hukum karena tuduhan korupsi di Thailand. Bahkan, muncul ancaman bahwa City akan bangkrut. Beruntung, ADUG datang membelinya dengan harga 200 juta pounds (sekitar Rp3,299 triliun).

Manchester City langsung membeli Robinho dengan harga 32,5 juta pounds (sekitar Rp536,166 miliar). Itu merupakan rekor transfer di Inggris. Bahkan, pemilik baru berjanji akan mendatangkan lebih banyak bintang. Klub itu pun kini dianggap sebagai raksasa baru yang siap meramaikan EPL.

MANCHESTER UNITED
Klub ini dijual paling mahal. Pada Agustus 2005, MU dibeli oleh pengusaha Amerika Serikat, Malcolm Glazer, sebesar 790 juta pounds (sekitar Rp13,032 triliun).

Namun, suporter awalnya kurang suka dengan peralihan kepemilikan itu. Apalagi, Glazer kemudian menempatkan anak-anaknya, Joel, Avi, dan Bryan di manajemen. Namun, berangsur-angsur, publik akhirnya terdiam juga. Sebab, MU langsung juara Premier League dua kali dan juara Liga Champions.

PORTSMOUTH
Satu lagi pengusaha Rusia merambah sepakbola Inggris.  Alexandre Gaydamak mengambil kontrol Portsmouth pada Juli 2006. Dia bahkan membeli semua saham yang tadinya dimiliki ketua klub, Milan Mandaric.

Sebelumnya, Mandaric membeli Portsmouth pada 1998. Saat itu, Portsmouth masih di Divisi II. Pada 2003, Portsmouth promosi ke Premier League. Meski sudah tak memiliki saham, Mandaric dipertahankan sebagai ketua klub.

WEST HAM
Pada November 2006, West Ham dibeli konsorsium Islandia yang dipimpin oleh presiden federasi sepakbola Islandia dan anggota UEFA, Eggert Magnusson. Nilai pembeliannya adalah 85 juta pounds (sekitar Rp1,402 triliun).

Magnusson kemudian mengganatikan Terry Brown sebagai ketua klub. Pada 2007, pemilik saham terbesar yang juga orang Islandia, Bjorgolfur Gudmundsson, menjadi ketua klub. Dia kemudian menginvestasikan dana sebesar 30,5 juta pounds (sekitar Rp503,171 miliar) untuk membangun tim. (Berbagai Sumber/HPR)