Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Moggi: Liga Italia Masih Korup
Rabu, 16 Juli 2008 | 22:14 WIB
|
Share:
Getty Images
Luciano Moggi saat masih berada di Juventus.

TERKAIT

ROMA, RABU - Mantan transfer guru Juventus yang menjadi tokoh utama dalam skandal Calciopoli, Luciano Moggi mengatakan, Liga Italia masih korup. Pasalnya, beberapa figur korup yang ingin mengontrol Liga Italia masih melakukan hal itu. Dia juga mengatakan, mereka yang menjebloskannya dalam skandal Calciopoli hanya cemburu kepada suksesnya.

Moggi termasuk jagoan transfer pemain dan telah membawa banyak bintang ke Juvetus. Namun, dia dianggap bertanggung jawab atas kasus pengaturan skor di Liga Serie-A yang kemudian disebut Calciopoli pada 2006. Karena kasus itu, Juventus terlempar ke Serie-B dan gelarnya di Liga Serie-A musim 2005-06 diberikan kepada Inter.

Moggi yang berusia 70 tahun tersebut, akhirnya mendapat hukuman lima tahun tak boleh beraktivitas dalam sepakbola. Artinya, dia tak bisa terlibat dalam segala urusan sepakbola sampai 2011, saat dia berusia 74 tahun.

Istilah Calciopoli sendiri dibuat oleh media massa Italia untuk menyebut skandal korupsi di Liga Italia tersebut. Namun, menurut Moggi, mereka yang ingin melakukan korupsi sepakbola masih memiliki kekuasaan di Liga Italia.

"Mereka yang memiliki kontrol terhadal LLiga Italia masih melakukan korupsi serupa. Menurut saja, musim lalu seharusnya AS Roma yang pantas menjuarai Liga Serie-A," tuduhnya.

Moggi memang tokoh utama di balik kesuksesan Juventus, sejak dia menjadi direktur di klub itu pada 1994 sampai 2006. Sebelum dia datang, Juventus tak pernah menjuarai scudetto hampir dalam satu dekade. Begitu dia datang, I Bianconeri menjuarai 7 scudetti (dua di antaranya dicabut), Liga Champions, Coppa Italia, Piala Interkontinental, dan beberapa trofi lainnya.

"Apa yang bisa saya ubah dari masa lalu saya? Faktanya, saya telah membantu Juventus menjuarai banyak kompetisi dan turnamen," ujar Moggi.

Dia mengingatkan, saat dia mengurus Napoli, juga meraih sukses. Dia merekrut Diego Maradona dan Napoli yang tadinya klub kecil dan miskin, mampu menjuarai Liga Serie-A musim 1986-87 dan 1989-90.

"Napoli menjadi tim hebat. Tapi, untuk membangun tim yang berkualitas, mereka justru kehilangan beberapa pemain pentingnya. Musim ini, Napoli akan memiliki musim yang baik, tapi akan kesulitan bersaing di papan atas. Saya tak yakin apakah suporter akan bisa menerima hasil mereka, karena mereka semakin menuntut hal yang lebih," jelas Moggi. (GL/HPR)