

ROMA, SENIN - Pelatih AS Roma, Luciano Spaletti kecewa dengan permainan timnya saat bertandang ke kandang Siena, Minggu atau Senin (4/2) dini hari. Menurutnya, para pemainnya terlalu arogan, sehingga justru menjadi builan-bulanan Siena.
Kekalahan 0-3 dari Siena tak hanya memalukan, tapi juga membuat upaya Roma untuk meraih scudetto semakin tertutup. Sebab, Roma yang berada di urutan ke-2, kembali tertinggal 8 poin dari pimpinan klasemen Inter Milan.
Bahkan, menurut Spaletti, timnya tak bisa menjuarai Serie-A musim 2007-08. Sikap dan mental para pemain kurang mencerminkan semangat untuk juara. Mereka terlalu cepat emrasa besar, sehingga kurang menunjukkan semangat dan nafsu bermain yang besar.
"Sepertinya, pikiran para pemain tidak pada pekerjaan. Sebab, sebenarnya mereka bisa tampil lebih baik," keluhnya.
Sebelum partai tandang di Siena, beredar isu bahwa Roma kemungkinan terpaksa dijual keluarga Sensi. Sebab, perusahaan keluarga tersebut, Italpetroli, terlilit utang sebesar 200 juta poundsterling.
Namun, sebelumnya Spaletti mengatakan, isu itu tak memengaruhi performa timnya. Bahkan, timnya tetap terfokus kepada pertandingan lawan Siena.
Faktanya, fokus menjadi masalah pemain Roma pada pertandingan lawan Siena. "Siena memiliki semangat dan fokus yang lebih baik. Sehingga, meski di klasemen posisi kami jauh di atas Siena, kami tak bisa meladeni pertarungan dengan mereka," kecam Spaletti.
Spaletti mengingatkan, keadaan semakin berat bagi Roma untuk juara. Bahkan, dia mulai pesimistis bisa membawa scudetto ketiga buat klub tersebut, mengingat rivalnya, Inter, semakin tangguh saja.
"Jika kami bermain seperti itu terus, maka tak akan bisa meraih trofi penting. Semangat dan fokus sangat penting dan memberi kekuatan besar dalam permainan. Kami memang pantas kalah dari Siena," akunya.
Pada pertandingan lawan Siena itu, Roma sudah ketinggalan 0-1 pada menit ke-12 setelah Vergassola mencetak gol. Menjelang akhir babak pertama, menit ke-43, Tonetto malah membuat gol bunuh diri. Keadaan semakin kacau dan Siena yang berada di papan bawah justru bisa terus menekan. Hasilnya, Frick menyempurnakan keemnangan Siena pada menit ke-83.
Sementara itu pelatih Siena, Mario Baretta mengatakan, "Tim kami memang bermain sangat bagus. Kami bahagia bisa menang lawan tim besar. Rasanya, kami akan mudah menghindari degradasi jika terus bermain seperti ini." (CH4/HPR)

